Conspiracy 365: Dikejar Teror Sepanjang Tahun

April 11, 2017

Nyeseeel.....
Itu yang pengen saya bilang setelah baca buku ini, Conspiracy 365!

Ga rame?

Rame, kok!

Lho, kok?

Saya nyesel karena dua alasan. Pertama, saya ga baca dari awal-awal pas beli buku ini (ada deh 5 tahun ngendon di lemari sejak saya adopsi dari salah satu stan di pameran buku).

Yang kedua?
Saya cuma beli satu judul aja. Padahal waktu  di stabd saya sempat memerhatikan kalau novelnya ada 12 judul. Seri Januari sampai Desember. Jadi kalau khatam satu buku (Januari) ya endingnya bakal gantung. Dijamin penasaran apa selanjutnya yang bakal diceritakan di seri Februari sampai Desembernya. Iya, kayak saya. 

Eh tapi kenapa dibeli kalau akhirnya cuma ngambil satu judul?

Ya biasalah kalau datang ke pameran buku saya tuh bawaannya suka laper mata. Ga cukup kayaknya cuma bawa uang selembar Soekarno - Hatta. Lagian biasanya di arena pameran buku itu biasanya harga buku lebih murah. Diskon untuk buku baru atau obral untuk buku lama. Beli buku ini buat menggenapkan bayar ke kasir.

Kadang saya mikir gini lho, gimana rasanya ya penulis yang bukunya diobral? Atau sudah diobral pun masih numpuk ga ada yang beli? Hiks hiks.... Dilematis. Di sisi lain saya ga bisa membantah bakal merasa senang kalau lihat buku bagus yang dijual dengan harga lebih murah.  Ya, kan?

Kembali ke novel Conspirarcy 365, saya mau nunggu aja pameran buku  (di Bandung pastinya) selanjutnya aja, yang mungki akan digelar sekitar bulan Juli nanti. Itungan saya gitu. Karena pameran sebelumnya di bulan Maret 2017 kemarin saya melewatkannya. -_-.

Ada sih di youtube yang unggah serialnya tapi cuma ada Januari aja. Sisanya cuma trailer/teaser aja.  kalau pun ya kudu beli yang berbayar.  Kenappa tv lokal Indonesia ga ada yang beli hak tayangnya, ya? Padahal di Aussie sana baik  buku atau versi filmnya termasuk best seller /banyak pemirsanya lho. Saya sempat lihat yang episode Januarinya sedikit. Di sini saya malah nemu visualisasi ayahnya Cal sebelum meninggal. Sangat cocok untuk tipikal orang pintar dan family man. Kesimpulan yang sama yang saya dapatkan waktu membaca novelnya.

Sedikit cerita tentang novel (kalau 12 seri gini apa ya namanya?) Conspiracy 365 ini bercerita tentang anak remaja bernama Callum Ormond. Ayahnya. Cal yang tinggal bersama ibunya yang berprofesi sebagai arsitek dan adik perempuannya Gabbi mendapat peringatan dari seorang laki-laki aneh menjelang malam pergantian tahun baru untuk bersembunyi sepanjang tahun.

Mengabaikan peringatan orang aneh yang menyebut ayahnya meninggal dibunuh bukan karena sakit, Cal bersama ibu, adik dan Rafe saudara kembar ayahya pergi ke pantai untuk berlibur.

Setelah kejadian perahu bocor, rumah yang diacak-acak, rekening tabungan ayahnya yang tiba-tiba habis serta kiriman surat berisi gambar penuh teka-teki yang digambar ayahnya membuat Cal berpikir ada sesuatu hal yang harus diketahui. Masalahnya Cal hanya mempunyai Boges, sahabatnya yang bisa dipercaya untuk membantu memecahkan misteri yang dihadapinya. Sementara itu Rafe malah menunjukan tindak tanduk yang mencurigakan, terlebih lagi Cal diamanahi ayahnya untuk merahasiakannya bahkan dari Rafe dan ibunya sekalipun. Cal semakin curiga jika terjadi sesuatu pada ayahnya ketika menghandiri konferensi di Irlandia sebelum virus aneh melumpuhkan otak dan syaraf motorik ayahnya.

Membaca novel ini rasanya serti dejavu bagi saya, menarik kembali kenangan saya waktu SMP-SMA yang menyukai serial detektif atau misteri semacam Lima Sekawan, Stop, Hardy Boys atau Trio Detektif yang menampilkan tokoh utamanya anak muda berusia belasan tahun.  Di sisi lain saya merasa putaran waktu berlalu begitu cepatnya. Usia saya sudah 2 kali lipat lebih dari mereka -_-.

Novel bergenre thriller crime dengan urutan halaman mundur (untuk serial Januari, halaman awal dimulai pda angka 207 sampai halaman 1 pada akhir buku) ditulis dengan caa kronologis. Misalnya Pada cerita bertanggal 1 Januari, peristwa jam demi jam diceritakan oleh sudut pandang orang pertama (Cal remaja berusia 15 tahunan ), dengan lugas bercerita kesehariannya yang  punya sahabat dekat, suka ngoprek gadget pada masanya, punya penasaran yang tinggi (bayangin aja, malam-malam pergi ke kuburan keluarga Ormond),  sayang pada ibu, ayah dan adiknya tapi gedeknya minta ampun pada Rafe, sosok paman yang aneh dan culas.  Cara bertutur Cal yang diadopsi oleh Gabriele Lord juga menunjukan Cal bukan cuma anak yang cerdas tapi juga serang remaja yang detil.

Kebencian Cal pada Rafe beralasan. Hanya karena saudara kembar ayahnya tidak berarti Rafe bisa seenaknya mengatur hidup keluarga Cal. Sayangnya Ibunya Cal kurang peka soal ini. Padahal harusnya kalau sudah mengenal suaminya dengan baik, dia bisa lebih notice kalau saudara kembar mendiang suaminya ini rese dan mencurigakan. Di sisi lain saya belum nemu gambaran seperti apa interaksi antara Rafe dan ibunya, Cal. Mungkin kalau digambarkan dalam serial yang lebih panjang atau buku berikutnya (semoga saya bisa mendapatkannya lengkap sampai Desember), Rafe juga pintar bersilat lidah dan bemanis muka.

Walau sama-sama mewarisi darah keluarga Ormond, Rafe sepertinya merasa inferior dibanding saudara kembarnya. Mungkin itu juga yang membuat Rafe memilih cara menikung Cal untuk menyibak tabir rahasia keluarga dari Cal, alih-alih memecahkan misteri yang membuat orang lain dari luar lingkaran klan keluarg Ormond ikut-ikutan nimbrung mengincar petunjuk terakhir yang dipegang oleh Calum.

Pokoknya saya mupeeeeng banget pengen ngumpulin Conspiracy 365 ini, komplit.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar