Victoria and Abdul, Cerita Manis Tentang Ratu dan Pelayan

Cerita rakyat jelata dan bangsawan yang saling  cinta atau bersahabat, sudah banyak yang diangkat kisahnya dalam film atau serial tv. Kebanyakan cerita yang diangkat adalah kisah fiksi. Tapi lain cerita kalau yang diangkat itu cerita non fiksi alias nyata. Apalagi kalau sampai mempunyai latar yang kontroversial.

Pernah lihat film Victoria and Abdul? Film besutannya Stephen Frears ini sebenarnya masih keitung fresh. Ya sih, tayangnya di penghujung tahun 2017. Kalau nyari di jadwal tayang XXI, CGV atau Cinemaxx ga bakal nemu. Palingan bakal kita temukan dalam bentuk cakram digital atau versi streamingnya. Linknya? Cari sendiri saja, ya :D
review film victoria and abdul (2017)
Ali Fazal, pemerannya Abdul ini ganteng, ya? :D
sumber foto: http://collider.com
Nah, pas pergantian tahun baru kemarin tuh aku stay di rumah aja, ga kemana-mana. Mau tidur selepas pulang pengajian kok ya belum bantuk. Kebetulan  Indihome  lagi baik hati nge-lost in semua channel secara free selama seminggu sejak natal sampai tahun baru kemarin.  Pindah-pindah channel,  nyasar ke channel HBO, dan baca info judul film di sudut kanan layar, Victoria and Abdul. Langsung kunci. Yeay, aku tuh suka film-film drama klasik gini. Apalagi kalau udah gusur-gusur suasana aristokrat. Ga tau kenapa, seneng aja.


Jadi ceritanya begini.
Ada seorang pencatat harian di penjara Agra di India. Ya ini, Abdul. Nama lengkapnya adalah Abdul Karim (diperankan oleh aktor Ali Fazal). Abdul terpilih sebagai pria India untuk menyerahkan Moshul pada Ratu Victoria (Judi Dench), persembahan dari Sultan India atas persetujuan dari emmm.... apa ya, semacam pemerintah kolonial Inggris di India gitu lah. O,ya film ini ngambil seting tahun 1887, di mana pada waktu itu India termasuk dalam wilayah jajahan Inggris. 

Abdul tidak datang sendiri. Dia ditemani pria India lainnya bernama Muhammad Bakhsh (Adeel Akhtar).  Kalau Abdul memang terpilih karena secara posturnya yang tinggi pas dengan kriteria yang diminta, Bakhsh ini cuma sekadar tempelan, menggantikan pria India lainnya yang meninggal dalam perjalanan.

Sebel, dan dongkol Bakhsh dibuatnya karena dia merasa ga berguna. Sementara itu 180 derajat berbeda dengan responnya Abdul. Dia tuh super duper girang datang ke Inggris. Bukan cuma merasakan hidup di kalangan aristokrat Monarki Inggris, tapi  Abdul yang bawaanya supel dan seneng ngobrol cepet banget menenemukan chemistry sama Ratu Victoria yang diawali oleh drama curi-curi pandang.

Curi-curi pandang? Hiyaa, karena kalau di Inggris sana tuh ga sopan menatap langsung wajah Raja atau Ratu, bahkan ga boleh meninggalkan raja atau ratu dengan membalikan punggung. Jadinya harus jalan mundur. 

Nah, singkat kata, setelah drama tatap-tatapan, Ratu terpesona dengan Abdul. Entah apa yang dirasakan oleh Abdul. Ga dijelasin secara eksplisit di sini. Ratu sih udah jelas-jelas bilang Abdul itu tampan. Nah, Abdul mungkin merasakan Ratu tuh ga seangkuh atau sejaim gambaran bangsawan yang menjaga jarak. Ga lama setelah Abdul dan temannya Muhammad Bakhsh itu diusir, sang ajudan Ratu Victoria tergopoh-gopoh menyusul Abdul yang udah siap-siap angkat koper.

Mulai deh, Abdul dan Ratu semakin dekat. Mulai dari ngajarin bahasa Urdu sampai obrolan receh tentang garam Masala dan Mangga, sampai filosofi dibalik karpet sampai bahas tentang Quran segala lho.  Abdul yang dasarnya seneng ngobrol dan cerita banyak sampai dikira dia tuh seorang penyair oleh Ratu Victoria, bahkan termasuk pelayan istana yang nguping.  Ish, ini sama kayak kelakukan para pelayan di serial Downton Abbey yang doyan rumpi. 

Tentang Serial Drama Downtone Abbey

Ngomong-ngomong soal etika dan makanan, ada yang menarik di film ini. Di Inggris sana, yang dapat kesempatan makan duluan adalah raja atau ratu, baru kemudian anggota keluarga lainnya menyusul. Makannya pun ga kayak perasmanan buffet di mana kita bisa leluasa ngambil apa yang ada di depan meja. Mungkin itu yang bikin para pangeran dan putri tubuhnya bagus-bagus, ya. Proporsional.
review film victoria and abdul (2017)
sumber: https://greenelibrary.info
Jadi nih, di belakang kita udah ada pelayan yang siap dengan satu piring atau makanan yang akan disodorkan setelah raja atau ratu itu makan.   Sialnya, makan bareng keluarga bagsawan gini ga bisa lama-lama dan sampai tandas. Ga lama setelah ratu atau selesai makan, pelayan bakal mengambil pring kita, ga peduli masih sisa banyak atau emang udah habis.  Yang doyan makan enak, masih pengen jadi keluarga ningrat ga sih kalau makannya diatur kayak gini?

Kecerdasan yang harus dimiliki kalau ada dalam lingkaran keluarga bangsawan kayak gini perlu usaha esktra. Bukan cuma soal baju yang proper alias sesuai dengan suasana, tapi juga mengakselerasikan kecepatan mengunyah makanan tapi tetap terlihat sopan. Kira-kira berapa kunyahan yang pas, ya? 

Ratu Victoria ini terbilang cuek juga karena pas makan steak dengan cueknya menggunakan tangan,  ga pake pisau atau garpu. Ibu Suri yang funky, ya? 

Bagian lain yang menarik juga bikin geli waktu Bakhsh bengong-bengong nanya liat penampilan agar-agar yang goyang-goyang di nampan. Kayak mau tumpah tapi ga jadi. Jadi terbayang gestur  khas orang India yang suka menggoyang-goyangkan kepala kalau lagi ngobrol.  Bakhsh langsung misuh-misuh pas dikasih tau kalau agar-agarnya itu pake gelatin dari sapi. Meski seorang muslim, dia merasa jijik aja dibuatnya.  
review film victoria and abdul (2017)
sumber https://www.flickfilosopher.com
Ngomongin kultur India, jadi keingetan juga ceritanya Agustinus Wibowo di buku Titik Nol-nya. Jadi orang India tuh seneeeeng banget nulis diary. Apapun ditulis dan dengan bangga dipamerin sama orang lain. Ada yang so so gitu, alias ga penting, tapi ada juga lho, yang  malah jadi catatan penting seperti diarynya Abdul ini. Kelak, diarynya Abdul ini yang menyibak tabir cerita indah tentang Abdul da Ratu setelah seratus tahun belalu.

Jangan bayangin kalau Ratu Victoria yang anaknya udah berusia 80an (Pangeran Bertie, putranya Vicotria  yang bergelar Prince of Wales waktu itu udah beusia 50 tahun lebih) kesengsem sama Abdul seperti cerita-cerita ala-ala princess. Tidak sama sekali. Lebih ke rasa sayang seorang ibu sama anaknya, respek dan kagumnya seorang murid kepada guru yang jauh lebih muda. Bahkan ketika tahu Abdul sudah punya istri, ratu menyuruh istrinya Abdul datang menyusul ke India. 
review film victoria and abdul (2017)

Sementara Victoria semakin akrab sama Abdul, anak-anak ratu ini malah kayak cacing kepanasan. Sebel dan jealous karena ratu begitu mengistimewakan Abdul, bahkan meski sempat kecewa karena sebuah alasan, Victoria yang juga bergelar Maharaninya India ini sempat mempunyai ide  untuk memberi gelar bangsawan buat Abdul.  Gimana ya,  kalau udah suka banget,  kesel pun cepet nguapnya. 

Kalau di India sana Abdul sudah kenyang dengan sistem hirarki sosialnya, di Inggris Abdul menghadap 'dua tim' sekaligus. Yang pertama ya jelas dari anak-anaknya Ratu Victoria. Yang kedua, dari para pelayan. Catet, ya. Pelayan! Deuh, entah kesurupan hantu bangsawan songong mana tuh, ya? Kok sesama rakyat jelata bisa segitunya sentimen. Salah satu dalih paling nyebelin dari seorang pelayan karena Abdul itu 'berwarna'.  Hmmm.... tahun segitu politik rasisme atas dasar warna kulit emang lagi hot-hotnya sih.  

Selama film tayang, saya sempet ngira-ngira, taktik gimana aja yang bakal dilakukan oleh para pembenci Abdul ini. Apa diracun kek, atau upaya lain yang mencoba menghilangkan nyawa. Tapi, mungkin karena kultur bangsawannya, mereka milih jalur 'diplomasi' alias ngaruh-ngaruhin Ratu Victoria.
review film victoria and abdul (2017)
sumber: http://anygoodfilms.com
Berhasil? Enggak. Meski udah tua dan sakit-sakitan,  Sang Ratu selalu nemuin jawaban cerdas buat membungkam hasutan atau pembangkangan dari orang-orang di sekelilingnya. Bahkan ketika dokter istana, yaitu Dr Reid (Paul Higgins) bilang Abdul tuh punya penyakit menjijikan, ratu bukannya menyuruh Abdul diusir atau minimal di karantina. Yang ada Dr Reid malah disuruh mengobati Abdul. Hahaha... skak mat! Syukurin!

Moral story yang saya simpulkan di bagia ini adalah, sekesal-kesalnya kita sama atasan tetep aja harus hormat dan respek. Kalau ga suka ya ngomong langsung, jangan kasak kusuk di belakang, giliran disuruh ngomong langsung eh malah mingkem.

Ada dua part yang mengharukan di film ini yaitu ketika Ratu Victoria meninggal (tahun 1901) dan pengusiran Abdul tidak lama setelah ratu meninggal. Tapi adegan yang paling bikin sedih tuh ya, pas (hampir) semua properti dan dokumen Abdul yang berkaitan dengan ratu dirampas dan dibakar oleh anggota kerajaan.  Hiks, siapa coba yang ga sedih. Setelah kehilangan orang yang paling kita sayang, benda-benda lain yang 'memorable' pun dirampas dan dimusnahkan.  

Dari beberapa literatur sejarah, diceritakan ga lama setelah itu Abdul kembali ke India dan meninggal 8 tahun kemudian. Nah, puluhan tahun kemudian, keluarga Abdul ini menemukan diarynya Abdul dan kisahnya ditulis kembali oleh Shrabani Basu dan diangkat jadi film ini.


Kalau di Inggris kisah seorang  ratu  yang mencintai anak angkat dari Indianya mendapat 'denial' dari keluarga kerajaan, di India sendiri film Victoria dan Abdul mendapat penolakan juga. Menurut berita yang ditulis oleh BBC, penolakan dari India karena filmnya ga mengangkat kejamnya kolonialisme Inggris pada waktu itu. Ya wajar sih, ini kan film drama, ya. Bukan tentang kisah heroik gitu. Sama seperti kisah romantis Taj Mahal dan Ratu Mumtaz yang diceritakan oleh Abdul pada Ratu Victoria.

Mungkin diperlukan lebih banyak diplomat India yang manis, jago retorika dan cerdas plus pandai mencuri hati untuk meluluhkan pemerintah Inggris waktu itu untuk membuat mereka lebih fokus merecoki Belanda yang juga lagi berseteru. Bukannya menjajah India. 

Eh tapi, tahun segitu, politik di Eropa emang kental dengan misi 3G: Gold, Gospel, Glory. Kalau recokin Belanda mungkin cuma dapat ekspansi wilayah. Sementara dari sisi keseimbangan neraca negara,  Belanda ga punya sumber daya alam kayak India atau negara-negara Asia lainnya yang kaya dengan rempah-rempahnya. Bahkan pada waktu itu, di Inggris (mungkin juga Eropa) belum ada pohon Mangga, lho. Giliran dikirim langsung, eh udah busuk.Nah, jadi inget ayat Quran dari surat Ar-Rahman yang diulang berkali-kali. 

"Nikmat mana lagi yang kamu dustakan?"

Kalau ada kesempatan nonton film Victoria and Abdul, sempetin ya. Film ini aku kasih higlight dengan skor 8.5/10. Artinya? Keren, dong! Fans berat cerita-cerita drama klasik, atau berlatar sejarah bakal suka sama true story ini.

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

No comments:

Post a Comment