Review Film 1917: Terhisap Suasana Perang yang Mencekam

Ada yang suka nonton film-film berlatar perang? 

Kalau iya, maka film 1917  wajib banget masuk list tontonannya.  Apalagi film besutannya Sam Mendes ini meraih penghargaan best motion picture dalam ajang penghargaan Golden Globe yang berlangsung pada tanggal 6 Januari 2020 kemarin.


1917 bercerita tentang dua prajurit tentara Inggris berpangkat kopral, Schofield dan Blake, dari resimen VIII. Mereka mendapat tugas dari Jendral Erinmore (Colin Firth)  menyampaikan pesan kepada MacKenzie (Benedict Cumberbatch), dari resimen Devonshire untuk membatalkan penyerangan ke pihak musuh - dalam hal ini kubunya Jerman.  Schofield  yang diperankan oleh George MacKay dan Blake oleh Dean-Charles Chapman  harus menembus barikade wilayah berbahaya, melintasi benteng pertahanan Jerman, yang meskipun katanya sudah kosong dan ditinggalkan lawan.


 Saat diberitahu soal keberadaan kakaknya Letnan Blake (Richard Madden) di resimen Devoshire, semangat  Kopral Blake semakin membuncah. Pengabdian tanpa tapi membuat keduanya segera bergerak meninggalkan benteng dan teman-temannya. Bukan sekadar reuni keluarga tapi juga misi berat untuk menyelamatkan 1.600 tentara yang akan menjadi korban jebakan musuh.  Bukannya menghancurkan pertahanan musuh tapi malah nyetorin pasukan, dan jadi ajang pembantaian.

Sejak keluar dari benteng, Scho dan Blake sudah disajikan kehororan situasi yang bisa menciutkan nyali.  Bangkai kuda dan manusia dari pihak kawan dan lawan sudah berceceran di mana-mana. 

Scho dan Blake memang membuktikan benteng musuh sudah kosong, namun bahaya lainnya sudah siap memberikan sambutannya.  Scho nyaris kehilangan nyawa ketika sebuah ledakan terjadi saat menyusuri benteng lawan. 

Film berdurasi 2 jam ini menyajikan adegan-adegan single shot. Hampir 1 jam pertama film, keduanya tidak banyak bertemu dengan manusia yang masih hidup namun tetap memberikan teror dan horor yang bikin mencelos.  Ga sempat bawa makanan atau minuman saat menonton pun ga masalah, karena 1917 berhasil menyita perhatian kita untuk terus menatap layar. Rasanya kita ikut merasakan deg-degan tokoh film melewati inchi demi inchi perjalanan untuk sampai ke tujuan.   

Film 1917 yang dilatari dari kisah nyata yang dialami oleh kakek Sam - Alfred Mendes di mana Amerika dan sekutunya berperang melawan Jerman. Pada saat perang dunia kesatu yang berlangsung pada tahun 1914-1918 ini, Jerman masih merupakan negara kesatuan yang utuh, belum terbagi menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur (kalau ini baru terjadi seusai  perang dunia kedua, pada tahun 1949).  FYI, kisah ini juga ditulis dalam buku tentang beliau, yaitu The Autobiography of Alfred H Mendes 1897-1991.

1917 bukan saja bercerita kisah berlatar sejarah tapi juga menyajikan pengalaman sinematik saat menonton.  Lorong-lorong benteng yang kelam - di mana tikus-tikus besar asik melenggang - dan bisa runtuh setiap saat, puing-puing kota yang suram, pusaran air yang deras dan menghanyutkan di mana setiap saat bisa menghempaskan kita ke jurang, digarap secara apik membuat kita ikut merasakan  situasi yang  bisa menyisakan trauma. Dead line waktu kurang dari 24 jam tidak memberi waktu tokoh film untuk berleha-leha melewati semua rintangan.


Saat lagu Wayfaring Stranger  muncul, rasanya pas banget dengan harapan sekaligus kelelahan yang secara visual tersaji di layar. Untuk scene ini bisa kita lihat cuplikannya di youtube.

Selain drama terseret arus sungai,  adegan Scho saat berlari zig zag diburu ledakan bom adalah situasi yang dramatis.  Ada saat pas lari begini, Scho menabrak seorang tentara dan terus berlari. Sementara tentara yang jadi kobran tabrak lari,  terlihat ga bangun-bangun. Segitunya saya merhatiin hihihi....

Belakangan adegan ini juga dibahasa dalam sebuah acara talkshow yang cuplikannya ada di youtube. Dengan konsep film yang banyak merekam adegan secara single shot - ga mengizinkan terjadi banyak kesalahan karena satu kesalahan bisa membuat  bisa membuat adehgan lain harus ditake ulang - membuat Mac Kay terus berlari sampai selesai.  Tanpa dinyana kesalahan ini membuat adegan film terasa dramatis, walaupun arah lari Mac Kay jadi makin ga karuan, semakin mengarah ke kiri layar hahaha....

Film yang menyingkirkan Joker di ajang Golden Globe 2020 kemarin juga masih punya kesempatan menyabet pernghargaan Oscar untuk sejumlah nominasi  diantaranya kategori Best Picture, Best Director, Best Original Screenplay,  Best Cinematography, Best Sound Mixing, Best Sound Editing, Best Original Score, Best Make up and Hair dan Best Visual Effect.  

Kalau suka nonton film-film drama berlatar perang,  1917 ini adalah paket lengkap untuk mendapatkan hiburan dengan sentuhan impresif dari berbagai unsur film yang mengolahnya seakan kita alami secara nyata.  

8 dari 10 bintang dari saya buat 1917 ini.

Post a comment

0 Comments