Review Perfect Match: Tentang Trauma dan Mencari Keadilan

Februari 23, 2017

Punya penulis favorit? Pasti punya lah.
Kalau saya punya beberapa.  Penulis dari luar salah satunya adalah Jodi Picoult. Baru baca dua sih bukunya. Diiih baru baca dua kok ngaku-ngaku ngefans? Ga usaha emang cari buku dia yang lain?

Udaaah! Tiap mampir ke toko buku udah nyari tapi ga nemu.  Selain My Sister Keepers bukunya yang lain yang udah dibaca adalah Perfect Match atau kalau bahasa Indonesianya, Pasangan Sempurna.  Ini pun saya dapatkan di arena buku yang diobral -_-. Kalau mau sih bisa beli buku yang versi aslinya alias teks bahasa Inggris. Tapi males ah, harus bolak-balik buka kamus secara kosa kata bahasa Inggris saya pas-pasan hehehe.

Judul Buku : perfect Match (Pasangan Sempurna)
Penulis : Jodi Picoult
Penerbit : Gramedia - 2010
ISBN: 9778-979-22-5768-7
Tebal: 504 halaman 

Tadinya pas baca judul kirain bakal tentang kisah cinta sepasang kekasih. Tapi kenapa cover bukunya gambar seorang anak laki-laki yang lagi duduk di ayunan ya?

Ceritanya mengarah pada tokoh utama bernama Nathaniel, seorang anak laki-laki berusia 5 tahun yang mengalami pelecahan seksual. Buntut dari kejadian itu menyebabkan  Nathaniel trauma, tidak bisa berbicara seperti layaknya anak-anak yang mengalami tunawicara.  Nina Frost, ibunya Nathaniel yang berprofesi sebagai seorang jaksa - di wilayah negara bagian Maine, Amerika serikat -  berpikir keras untuk menuntut pelakunya. 
Terdakwa menghabiskan tiga tahun penjara
Tapi korban menghabiskan tujuh tahun untuk menjalani terapi.
Itu pun kalau memang proses pengadilan bisa membuktikan si pelakunya memang bersalah. Masalahlnya, Nathaniel yang meskipun setelah menjalani terapi bisa berbicara belum tentu bisa menjadi saksi tunggal untuk menyeret  pelaku ke penjara. Sebalnya jika si pelaku bebas dari penjara, si anak masih butuh waktu lebih lama berusaha untuk sembuh dari trauma. Ga adil! Si anak pun belum tentu bisa diajukan sebagai saksi. Ada serangkaian proses seperti kompetensi hearing yang memungkinkan sang anak bersaksi. Duh anak 5 tahun jadi saksi? Banyak yang menyangsikan,  kadang pikiran mereka lebih banyak diisi khayalan. Belum lagi perlu usaha keras agar bisa  fokus dan kerjasama.  Gimana coba? Dalam beberapa kasus sebelumnya saksi anak yang diajukan berakhir dengan putusan yang memenangkan terdakwa.  Ini yang membuat Nina merasa kesal dibuatnya. 

Di sisi lai   proses pengadilan di AS yang menganut sistem di mana keputusan pengadilan diambil lewat suara terbanyak dari juri yang terpilih belum tentu juga akan menghasilkan putusan yang memenangkan Nina dan Nathaniel.  O, ya soal pengambilan keputusan juri ini bila mengalami kemandegan barulah putusan perkara  diserahkan pada hakim dengan berbagai kemungkinan konsekuensi yang timbul, baik bagi terdakwa maupun penuntut.  Dan itu prosesnya lamaaa sekali, bisa bikin frustasi  siapa saja yang terlibat merasa gila. Siapa yang kuat bertahan dengan fakta dan alibi, dialah yang memenangkan perkara.

Sementara itu sambil menjalani terapi untuk penyembuhan traumanya, Nathaniel hanya bisa berkomuniasi dengan bahasa syarat lewat buku panduan yang dibeli Nina.  Mengajarkan bahasa isyarat pada Nathaniel yang sesungguhnya bisa bicara tidak disetujui Caleb, suami Nina yang juga ayah dari Nathaniel. Nathaniel sendiri selain diamnya itu tadi tidak menunjukkan gejala lain kecuali mendadak seperti anak yang autis,  asik dengan dunianya sendiri. Tetap saja sih mengkhawatirkan, ya.

Dari berbagai kebiasaan kasus pelecehan yang biasanya terjadi, biasanya pelaku kejahatan pelecehan seksual tidak jauh dari lingkaran terdekat korban. Karena memang Nathaniel hanya bisa berbicara lewat isyarat tangannya, Nina sempat mengambil kesimpulan jika pelakunya adalah suaminya sendiri, ayah dari Nathaniel yaitu Caleb.  Berbagai penyelidikan yang dilakukan, dengan bantuan sahabatnya Patrick - yang juga pernah menaruh hati pada Nina -  didapatkan serangkaian fakta jika pelakunya adalah Pastur Glen Szyszynski, seorang pendeta di gereja tempat Nina dan keluarganya berkunjung untuk kebaktian hari minggu. 

Temuan Patrick berupa celana dalam milik Natahaniel di lantai bawah gereja membawa kasus dalam situasi yang semakin rumit. Memang hasil uji forensik, jejak sperma pada celana Nathaniel identik dengan DNA milik sang pastur. Tapi ternyata penyelesaian kasusnya tidak sesederhana itu.  Masalah semakin rumit ketika dalam keadaan depresi Nina melakukan tindakan main hakim sendiri yang membuat dirinya tersangkut kasus hukum dan menyebabkan Nathaniel kembali mengalami trauma dan mogok bicara.

Sejujurnya waktu membaca buku ini saya semacam direcoki perasaan bosan karena alur cerita berjalan terasa lambat. Tapi rasa penasaran yang lebih kuat membuat saya lebih tabah untuk berusaha menyelesaikannya. Untunglah diksi dan alih bahasa dalam buku bikin saya bertahan sampai halaman terakhir.  

Entahlah dengan buku Jodi Picoult lainnya. Seperti yang sudah saya bilang tadi, baru dua bukunya Mbak Jodi ini yang pernah saya baca. Tapi senada dengan buku sebelumnya My Sister Keepers, novelnya Jodi Picoult menyajikan hal-hal yang berkaitan antara fakta hukum dan medis dalam satu cerita yang sama.

Bukan hanya jalinan konflik yang rumit antara temuan medis dan ketetapan hukum yaang berlaku di Amerika, cerita Perfect Match ini juga dibumbui dengan konflik asmara antara Nina dengan suaminya Caleb dan  Peter Ducharme - sang mantan yang masih memuja Nina, juga bounding emosi yang bertolak belakang antara Nina dan Nathaniel dengan Jaksa penuntut Quentin dan puteranya,  Gideon.

Yang menarik soal sifat DNA,  di mana umumnya kita tahu bahwa tidak ada ciri yang tidak sama persis antara satu orang dengan orang lain, ternyata karakternya bisa mengalami perubahan jika terjadi sesuatu. Profil DNA bisa diidentifikasi dalam semua organ tubuh, namun jika terjadi 'sesuatu' itu bagian gigi yang paling penting bisa mementahkan sampling yang dilakukan lewat pengambilan darah. Baru tau lho  saya soal ini.

Pada akhirnya memang kasus yang dialami Nathaniel menemukan titik terangnya, dengan risiko Nina harus mengalami pasang surut selama proses pengadilan yang membuatnya nyaris gila. Bukan aja sempat terpisah dengan keluarganya Nathaniel dan Caleb, percikan rasa dari masa lalu antara dirinya dengan Patrick.

Envy, after all, comes from wanting something that isn't yours. But grief comes from losing something you've already had - Jodie Picoult
Naluri alami akan mendorong kita melakukan apapun demi orang yang kita sayangi, entah itu anak atau kekasih apapun risiko yang timbul seperti kehilangan karir atau nyawa sekalipun. Whatever it takes, asalkan demi orang yang kita sayangi. Sekilas tampak 'so sweet'. Tapi di sisi lain kenekatan yang muncul karena tidak mau kehilangan itu bisa membuat seseorang  seakan-akan kehilangan akal warasnya. Makanya kejenuhan waktu membaca The Perfect Match ga ada apa-apanya dengan kebaperan yang dirasakan.

Kadang kala kita merasa benar  dan super yakin dengan kesimpulan yang didapatkan dari fakta yang didapatkan. Tapi itu saja ternyata tidak cukup. Masih harus melakukan observasi lain agar  tidak salah saat akan mengambil keputusan. 

Makna dari judul Perfect Match ini  bikin saya mikir, kayaknya bisa ditafsirkan dalam banyak hal. Bukan hanya bounding atau ikatan emosi antara Nina dengan anaknya Nathaniel tapi juga menemukan kepingan puzzle terakhir untuk menyelesaikan kasus yang terjadi. Dan puzzle terakhir yang presisinya paling ngeklik alias tepat kadang bisa didapatkan dengan cara yang tidak pernah terduga. Bahkan jika sumbernya datang  lawan kita  sekalipun. Jadi kalau benci sama orang jangan berlebihan juga.  Rasa keadilan kadang terusik oleh emosi. Nah lho penasaran kan?

Setelah buku ini selesai saya ga kapok kalau disodorin lagi buku Jodi Picoult lainnya untuk dibaca sampai tuntas. Nah PR selanjutnya adalah mencuri buku itu lagi. Kalau punya referensi di mana bisa saya dapetin (versi bahasa Indonesia pastinya), tolong kasih tau yaaa. 





  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. seru ceritanya ya mba..aduh aku malah gak ngerti kalo disodorin buku bahasa inggris..terimakasih udah berbagi..

    BalasHapus