Film Chrisye, Sisi Lain Legenda Musik

Desember 09, 2017

Kenapa sih laki-laki merokok?  Pertanyaan ini selalu membenak di kepala saya.  Ada yang bilang untuk menghilangkan rasa asam di mulut (entahlah, saya ga ngerti), ada yang bilang untuk memancing ide,  tapi tidak sedikit juga ada yang bilang untuk menghilangkan kegalauan. Well,  saya punya opini sendiri soal rokok  ini, tapi bukan itu yang mau saya bahas sekarang.

Waktu nonton film Chrisye, saya mendapati sosok ikon musik Indonesia legendaris ini dalam kesehariannya dekat dengan rokok, terutama ketika sedang merenung atau berpikir keras.  Saat merasakan getar-getar asmara (kok kayak judul acara MTV lawas aja ini mah, ya) pada Damayanti yang diperankan oleh Velove Vexia, ada satu part  Chrisye tengah merenung sambil merokok dilatari suara adzan.  Di part lainnya Chrisye menjadikan rokok sebagai semacam 'pelariannya' ketika ada yang membebani pikirannya.  Yup, ternyata sosok musisi sehebat Chrisye pun  alur hidupnya tidak semulus yang pernah saya bayangkan sebagai seorang seniman.
foto: posfilm
Film besutan Rizal Mantovani ini pun membuka hal-hal baru tentang Chrisye yang belum saya ketahui.  Dengan durasi 110 menit, Film Chrisye bertutur perjalanan hidupnya secara kronologis, mulai dari rencana keberangkatannya ke Amerika untuk mewujudkan impian sebagai musisi hingga akhir hayatnya.  Selain ikatan emosi antara Chrisye dengan Damayanti Noor,  saya juga menemukan cerita lain bagaimana konflik yang pernah mewarnai lembaran hidupnya  sampai sisi religiusnya Chrisye seperti pergulatannya saat mencoba menundukkan lagu Ketika  Tangan dan Kaki Berkata.

Sisi Emosi Film

Jangan pernah menganggap kehidupan orang lain itu tampak enak sampai kita benar-benar berjalan dengan sepatunya. Pernah dengar kan pepatah semacam ini?   Nah,kayak yang saya bilang tadi,  kalau kita menganggap seorang seniman yang punya nama besar dan jadi legenda macam Chrisye ini hidupnya lurus-lurus aja.  Ada hati yang terasa sesak ketika kehilangan orang yang dicintai seperti ketika Vicky saudaranya meninggal. Sisi lain  Chrisye sebagai seorang family man atau ketika merasa harga dirinya terusik ketika salah satunya anaknya dibully. Sampai-sampai membuatnya merasa jadi seorang 'no body'.
foto: upstation.id

Di sisi lain, film Chrisye sepertinya tidak mengizinkan penontonnya lama-lama larut dalam kesedihan.  Ekspresi lucu Dwi Adi Sasono sebagai Guruh Soekarno Putra yang sudah identik dengan ekspresi konyol kembali mengundang senyum penonton, atau Mimik komikal Tria The Cangcuter yang berperan sebagai Edi Sud tidak kalah epiknya. 

Sebenarnya saya sedikit penasaran ketika Chrisye dan keluarganya mudah sekali mengompromikan perbedaan idealisme sampai alasannya untuk memutuskan menjadi mualaf.  Konflik yang diangkat seakan berlalu begitu saja dan mengalihkan penonton  dengan kenangan lagu-lagu Chrisye yang sempat populer seperti Aku Cinta Dia, Lilin Kecil sampai lagu bernuansa religius Ketika Tangan dan Kaki Berkata.  Beneran semua masalah itu bisa diatasi dengan mulus, ya?

Bukan Penari Yang Baik

Seorang teman yang pernah menonton konsernya bercerita kalau Chrisye tampak aneh dengan joged-jogednya.  Ini juga terlihat di film. Sejak SD sampai sekarang, di mana hiburan yang paling sering saya dapati adalah radio dan televisi (generasi 90's pasti pernah menikmati hiburan tv Aneka Ria Safari di TVRI), lagu-lagu Chrisye cukup familiar  di telinga. Sampai-sampai saya ingat ada salah satu lagunya Chrisye yang jadi 'antheme' patah hatinya seorang sahabat saya. 
foto: tribunnews.com

+ : Iya, sahabat saya, bukan saya. 
- : Trus, Fi, kamu ada ga lagu spesialnya dari Chrisye, ga? 
+ : Ahahaha... ada, tapi endingnya ngehe, jadi ya udah lah ga usah diinget dengan baper. Udah ah jangan nanya lagi *tutupin mulut pake masker*

 Ngomongin lagi soal jogednya Chrisye, di mana kekakuannya itu  dikemas jadi sesuatu yang lucu di film ini. Ditambah lagi ekspresifnya Vino  G Bastian saat menari, kocak dan sukses bikin saya ketawa.  But no body perfect, right?  Tak apa lah Chrisye payah soal menari seperti dalam video Hip Hip Hura-Hura, Anak Sekolah atau Nona Lisa.  Tapi  yaaaa,  suara lembutnya saat menyanyi mulai dari lagu ceria sampai yang melow   emang masternya. Juara. He is trully a legend yang patut disandingkan dengan Koes Ploes. Moral storynya? Jangan ambil pusing kelemahan kita, ayolah setiap orang pasti punya potensi terbaiknya.


Kolaborasi Bukan Kompetisi

Itu yang saya rasakan di antara para musisi yang  ada dalam lingkaran Chrisye. Selain Abadi Soesman dan Keenan Nasution, rekannya di grup band dulu (Gipsy) param musisi kawakan Indonesia digambarkan sebagai mitra, bukan pesaing. Ini bisa kita lihat ketika Erwin Gutawa, Addie MS (ganteng banget ini pemerannya dan lebih keliatan pemuda 90an akhir) atau Jay Subiakto -nyang rambut lurus lembutnya bisa bikin iri sekaligus minder para perempuan -  juga ikutan riweuh ngurusin konsernya Chrisye yang sempat diragukan bakal menyedot penonton. 

Sisi Spritual dan Religiusnya Chrisye

Kemunculan Cholidi Asal Alam yang identik dengan sebagai karakter Mas Azzam dalam film Ketika Cinta Bertasbih. di film Chrisye bukan sekali dua kali sebagai cameo. Dibanding  karakter semacam  Erwin Gutawa atau Jay pun, tokoh Surya yang diperankannya mendapat porsi yang cukup dominan. Sejak menikah dengan Damayanti Noor, selain rokok yang jadi 'pelariannya'  Surya ini lah yang selalu ada untuk seorang Chrisye yang dimata saya adalah seorang plegmatis melankolis. Bikin saya mikir, jangan pernah menyamaratakan kehidupan seniman itu selalu identik dengan dunia glamor atau hura-hura.  He is far away from kind of those things.

Terlepas dari kebingungan saya kenapa Damayanti Noor begitu cantik dan awet sekali mudanya, ada  satu scene paling memorable.  Adegan Chrisye setelah rekaman lagu lalu  merangkul Yanti itu -  bikin saya melting. Yanti selalu ada sejak jumpa pertama (kayak judul lagunya Chrisye aja ini mah) mungkin jadi sosok istri panutan yang mau diajak susah, yang selalu menyapa lembut "Kamu kenapa, Chris?'
*issue mana tissue*  

Biopic rasa baru yang mengangkat legenda musik Indonesia ini sudah tayang secara resmi di seluruh bioskop Indonesia mulai 7 Desember 2017.  Rate 3,75 bintang saya sematkan untuk film Chrisye dan tentu saja 4 jempol saya untuk totalitasnya Vino G Bastian yang mampu memerankan sosok fenomenal ini mulai dari yang lucu sampai yang mengharu biru. Imejnya sebagai karakter konyol nan menggelikan bertransformasi dengan baik dari karakter Kasino yang medok,  gokil 'menggelikan' dalam film Warkop beralih sebagai seorang Chrisye yang kalem,  acuh dengan kepolosan nan lucu yang dimilikinya. So,  untuk liburan akhir tahun ini luangkan waktu untuk nonton filmnya, ya.

Daaan... sepertinya list aktor Indonesia favorit saya bakal nambah lagi setelah Reza Rahadian, Chicco Jerikho dan Teuku Rifku Wikana.  

  • Share:

You Might Also Like

8 komentar

  1. Saya salah satu pecinta lagu2 beliau, easy listening

    BalasHapus
    Balasan
    1. Easy listening dan ever green pastinya ya,Tian

      Hapus
  2. Wah belum sempet nonton, kusuka lagu dan karya beliau, tfs Tehh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, San. Semoga bisa ketemu waktu yang pas buat nonto filmnya, ya.

      Hapus
  3. Saya suka bgt lagu2 chrisye... Emang legendaris ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampai sekarang pun masih enakeun dengernya.

      Hapus
  4. ralat teh yang bener jadi kasino di warkop DKI

    BalasHapus
    Balasan
    1. O iya, bener. Makasih koreksiannya, Nis

      Hapus