Film Maze Runner (2018): The Death Cure

Januari 26, 2018

Bingung. Itu yang saya alami di awal-awal nonton. Salah saya sendiri sih,  melewatkan film seri The Maze Runner sebelumnya.  Begitu  memasuki menit-menit awal saat adegan kejar-kejaran   kereta  dan mobil  yang melibatkan  beberapa tokoh utama  otak  saya  malah sibuk menganalisa.  Tapi ya udah lah, saya mencoba  mengalir aja  mengikuti alir cerita sampai  saya paham kalau Thomas (Dylan O' Brien),  Frypan dan Newt  sedang  mencari  Minho (Ki Hong Lee) yang juga  diburu kelompok WCKD  untuk mendapatkan  serum   yang disebut flare.   Flare  ini  diperkirakan  ada dalam tubuh Minho.  Awalnya  Thomas dan teman-temannya mengira Minho ada diantara anak-anak  yang tertahan dalam gerbong kereta  yang sama-sama diincar  juga oleh WCKD.
foto: teaser-trailer.com
Menyaksikan  film ini di studio 4DX  CGV Paris Van Java serasa  memacu level adrenalin  saya naik beberapa strip. Ikutan cape  kayak yang dialami   tokoh-tokoh di film  ini, lumayan menyisihkan kebingungan  saya di awal-awal  tadi. Sejak awal,  penonton sudah diajak ikut merasakan   pesawat  bermanuver di udara atau  ketika mobil  yang ditumpangi Thomas dan teman-temannya  memacu mobilnya mengejar kereta,  kursi   yang saya duduki  ikut bergerak menyesuaikan. Sedap-sedap  ngeri lah.  Yang paling sebel ketika  di beberapa  scene seperti ketika terjadi ledakan ada aroma  yang ikut menguar di dalam bioskop. Saya buru-buru menarik ujung hijab buat menutup hidung.

Baca juga: Serunya Nonton Film Along With The Gods di 4DX CGV Paris van Java

Lanjut, ya.
Thomas kalah cepat.  Minho lebih dulu  ditemukan  oleh  WCKD.  Darah Minho diambil untuk  proyek pembuatan serum flare  untuk  mengobati mereka  yang sudah bermutasi menjadi crank, semacam  zombie.  Indikasi  yang jelas terlihat adalah ketika di wajah dan tangaan  muncul semacam urat varises   yang luas, berwarna  gelap  dan  menonjol,  perlahan-lahan mengubah  wajah  yang tadinya cantik atau tampan jadi tampak mengerikan.  Belum lagi kesakitan  yang  dirasakan oleh para crank ini.

Film  yang diadaptasi dari  novel  berjudul  sama, ditulis oleh James Dashner  pada tahun 2009 bergenre  fiksi ilmiah  distopia yang menceritakan kondisi masyarakat yang kondisinya buruk. Mengerikan, tertekan jauh dari kondisi ideal  atau minimal tidak  lebih baik dari yang kita alami.

Pernah dengar  istilah utopia,  kan?  Kedua kata ini adalah istilah  yang berlawanan di mana utopia  adalah kondisi  kehidupan yang sangat ideal  dan indah.  Kedua kondisi  yang berlawanan  ini  juga digambarkan dalam film ini di mana para crank  hidup  di sudut kota  yang suram dan kumuh dengan  kondisi fisik  seakan-akan menghitung  waktu dijemput malaikat maut.  Sementara di  sudut kota lain, ada Teresa (Kaya Scodelario). Gadis  yang juga disukai oleh Thomas ini membelot  bergabung dengan WCKD. Ia tinggal di sebuah laboratorium  dengan pengamanan yang ketat, steril dan menjanjikan  harapan kesembuhan yang tinggi, walau masih samar.

Di laboratorium  ini,  Teresa  dan teman-teman baru lainnya berusaha keras  menemukan formula flare  yang tepat  untuk  menyembuhkan penyakit  mengerikan.  alur film yang cepat  dipenuhi banyak twist  yang membuat  penonton  yang sama sekali  belum pernah  menonton  film ini   jadi mengabaikan kesibukan  berpikir dan menganalisa, eh kenapa gini, kenapa  gitu?  Pelan-pelan akhinya saya paham benang merah dari cerita  film.   Thomas dan Teresa  yang akhirnya  berada di sisi yang berbeda  sebenarnya sama-sama  punya misi   yang sama.  Mencari  obat  untuk melumpuhkan virus yang bisa membuat orang-orang bermutasi jadi  crank  itu tadi.  Hanya saja eksekusi yang dilakukan oleh WCKD, rumh barunya Teresa  itu  meneybalkan,  diskriminatif.  Di satu sisi terkesan mulia  untuk menolong  yang sudah terinfeksi. tapi di sisi lain pengamatan  yang ketat  seakan-akan membatasi hanya sebagian orang saja  yang pantas ditolong untuk sembuh.

Karakter  Janson  yang diperankan Aidan Gillen  dalam  film  ini adalah  karakter  antagonis paling rese,  nyebelin banget.  Radar  curiganya manteng terus  seperti ketika akhirnya Teresa dan Thomas  bertemu,  ia memberikan opsi dilematis. Janson seakan-akan ingin menguji  loyalitas  Teresa pada  WCKD. Sementara  itu Gally  (Will Poulter)  yang mukanya  bikin saya keingetan sama Samuel Rizal  pun  ga kalah cerdiknya.  Gally  ini  punya peran paling penting  untuk memuluskan misi  menyusup ke dalam  laboratorium.

Dilema  chemistry  antara  Thomas dan Teresa  terdistraksi oleh banyak twist-twist dan  adegan  menegangkan dalam scene demi sceneyang sudah muncul sejak awal. Yang paling saya suka  di film ini ketika Brenda (Rosa Salazar) memacu bus  ngebut  di tengah kota, ketika bus yang distirnya  menggantung  di bawah pesawat  dengan sudut  90 derajat.  Pusing dan mual  sudah jelas.  Membayangkan bus berisi banyak penumpang terhempas  ke bawah itu jelas lebih horor.

Walau  penuh dengan ketegangan,  film  ini menyelipkan drama persahabatan yang  bikin saya meleleh.  Apa yang terjadi pada Newt dan usaha  gigih Thomas menolong sahabat  yang potongan rambutnya kayak boyband  ini  adalah part yang paling saya suka dibanding cinta segitiga  antara Thomas,  Brenda dan Teresa.  Kalau  yang lain menonton trilogi film  ini berurutan dari seri pertama saya malah jalan mundur  hahaha. Aneh memang.  Tapi  sepertinya bakal lebih seru kalau  baca juga novelnya.


  • Share:

You Might Also Like

18 komentar

  1. Kemarin manaher aku ngajakin nonton ini tapi aku kurang berminat, ternyata seru juga ya walopun berseri hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya sayang, kenapa ga mau, Nes? Coba dirayu lagi manahernya buat reschedule nonton film ini hehehe

      Hapus
  2. Wah belum nonton nih pengennya sih ngerasain efek 4d nya hehehu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cobain, San. Mudah-mudahan ada yang bisa ngasuh debay selama Sandra nonton.

      Hapus
  3. Asli pelem ini bikin sport jantung, seru abis! Ahh Thomas kiyut banget kaya boyband

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kiyut banget emang. Cocok buat jadi menantu Nchie #eh hahaha

      Hapus
  4. Wah keren nonton film 4D. Kebayang ikut ngos-ngosan mungkin ya...:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, Iya Rin. Biar cape tapi seru, lho.

      Hapus
  5. amppun udah keduluan nonton maze runner :(

    BalasHapus
  6. AKu juga kayaknya bakalan bingung nontonnya Teh soalnya seri sebelumnya juga gak nonton. Udah lama banget gak nonton bioskop.

    BalasHapus
  7. Ini mah harus nonton dari seri sebelumnya ya biar ga bingung

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba cari di aplikai film, siapa tau ada hehehe

      Hapus
  8. Favorit aku distopiaan mah, Teh 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cocok banget buat Eva. Yang ngantri nonton film ini juga banyak banget, Va.

      Hapus
  9. Film-film fiksi ilmiah ini membutuhkan ketenangan jiwa raga saat nonton yaa, teh..
    Kalo gak ngerti, nonton lagi dan lagi...

    ((yaa...kalo bioskopnya bisa masuk gretongan...wkkwkk...))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyahahaha.... coba cari tau caranya. Terus nanti kasih tau aku, ya *apa sih*

      Hapus