Review Film Silariang Cinta yang tak Direstui

Januari 22, 2018

Kurang lebih sejak  satu terakhir  saya jadi lebih sering nonton film,  khususnya film Indonesia. Film barat juga, sih tapi ga sebanyak film Indonesia.  Ga seperti kebanyakan  movie goers lainnya,  di mana film barat justru porsinya lebih banyak.  Menurut saya sih, film Indonesia banyak  yang  layak apresiasi, lho.   Mau film-film lokalnya keren dan booming kayak industri  film di India  atau Korea?  Ya kasih apresiasi dengan nonton di bioskop.  

Ga percaya film lokal itu bagus?  Nih, saya kasih contoh. Ada Night Bus yang plot sepanjang filmnya bikin deg-degan atau Marlina Si Pembunuh Dalam  Empat Babak yang  meraih penghargaan di ajang internasional.   Film  yang mengangkat  latar Indonesia Timur ini emang kental banget dengan tipikal film ala-ala festival.  Eits, jangan salah.  Walau begitu, film ini ga kalah serunya dengan film mainstream lainnya.  Nanti kalau punya kesempatan nonton film ini jangan dilewatkan lagi, ya.

Ngomongin soal film-film berlatar Indonesia timur,  ga cuma menarik dari sinematografinya saja, lho.  Semacam Salawaku, Jembatan Pensil dan  Marlina,  ternyata film-film ini juga mengangkat kearifan lokal  yang keren. Salawaku  yang juga mendapat apresiasi  dari luar negeri  sebenarnya bakal lebih menarik kalau memperdalam  konflik  tentang hubungan cinta terlarang yang dialami oleh Binaiya. Sayangnya,  fokus film bukan pada tokoh Binaiya melainkan pada Saras dan Salawaku.

Baca juga Salawaku: Ketika Patah Hati Bertemu Culture Shock-dan Kegokilan


Soal cinta yang terlarang  kembali diangkat dalam film Silariang Cinta Yang (Tak) Direstui. Sayangnya, tidak semua bioskop  menayangkan film ini.  Yang di Bandung termasuk  beruntung walau cuma kebagian di BTC dan Miko Mall saja.

Silariang  adalah istilah untuk kawin lari  bagi masyarakat Bugis.  Strata sosial  yang masih berlaku di sana, membuat pernikahan antara laki-laki dan perempuan   berbeda kelas jadi termasuk tindakan  yang menimbulkan aib. Bukan cuma terancam tidak dianggap  lagi dari bagian keluarga tapi bisa juga menyulut permusuhan antara keluarga, belum lagi risiko bagi  yang nekat  menikah. Taruhannya adalah nyawa.  Padahal secara materi,  kekayaan keluarga Yusuf  gak sedikit juga. Tapi mau bagaimana lagi? Yang punya uang tetep aja bisa kalah juga oleh hukum adat.

Diperankan oleh  Bisma Karisma,  Yusuf  anak seorang  pengusaha jatuh cinta pada Zulaikha (Andania Suri) anak seorang bangsawan yang terpandang.  Yusuf yang cinta mati pada Laikha,  nekat mengajak gadis yang sangat dipujanya itu untuk kabur dan menikah di tempat lain.  Laikha terjebak dilema. Ia harus memilih untuk kabur dengan Yusuf tapi masih takut pada norma keluarga. Tapi juga tidak tega meninggalkan ibunya, Rabiah (Dewi Irawan),  yang meyakinkan Laika kalau cinta bisa datang belakangan jika ia menikah dengan lelaki pilihan ibunya.

Bujukan Yusuf  berhasil membuat keberanian Laikha naik berlipat-lipat. Mereka berdua pergi menemui penghulu  lalu kabur ke sebuah tempat  yang dipercaya bisa menghilangkan jejak mereka  Di tempat barunya,  Yusuf dan Laika menyamar dengan mengganti identitasnya dengan nama baru.  Di sini juga mereka mengenal tetangga barunya, Akbar dan Dira  yang cepat sekali akrab  seakan sudah menjadi  keluarga baru bagi mereka.

Tapi sepintar-pintarnya Yusuf dan Laika bersembunyi,  jejak mereka tetap saja bisa terendus.  Konflik semakin rumit karena bukan saja melibatkan kedua keluarga tapi  juga respon dari warga setempat  yang tidak menginginkan kehadiran mereka. Lagi-lagi alasannya adalah adat. Padahal sebagai warga, mereka adalah tetangga yang baik.

Setidaknya ada tiga adegan dalam film ini yang sukses bikin saya  nangis.  Yang pertama adalah sesaat setelah ijab kabul  diucapkan.  Walau sudah resmi  dinyatakan sebagai suami istri, kok rasanya sedih banget ngeliatnya. Oke,  tidak masalah ga ada hingar bingar pesta walimahan yang menyertai. Tapi ketidakhadiran keluarga,  saudara,  teman terdekat bahkan orangtua  yang harusnya menyaksikan tidak ada satupun adalah hal yang mengiris hati.   Di sini juga saya melihat dari kelompok ulama atau pemuka agama mendudukkan posisi pernikahan lebih pada status hukum dalam agama,  bukan secara adat.  Tolong koreksi saya kalau salah, ya.

Adegan kedua,  adalah ketika para orang-orang suruhan Puang Ridwan, pamannya Zulaikha  yang  berhasil mengejar Laika dan Yusuf.   Ada Akbar yang menyadari  'tetangga barunya' dalam bahaya langsung pasang badan menjadikan dirinya sebagai tameng.  Sementara Laikha begitu ketakutan bersembunyi di kolong rumah. Ngeri, takut, sedih campur aduk  jadi satu. Sementara nun jauh di sana,  Rabiah, sebenarnya merasakan kontak batin dengan putri bungsunya itu.   Antara sedih dan sebel saya liatnya.  Rabiah buru-buru menepis kesedihannya itu dan tunduk pada ritual adat  untuk melangsungkan upacara adat penanda putusnya hubungan keluarga.

Saya sempat dibuat tidak mengerti, kenapa baru setahun kemudian baru dilaksanakan upacara adat ini, ya? Mungkin karena posisi Laikha memang baru terlacak setelah sekian lama kabur.  Mungkin juga karena pihak keluarga butuh bukti untuk melangsungkan upacara  ini. Jadi ga asal menggelar ritual.

Di sisi lain tadinya saya pikir upacara ini akan melahirkan konsekuensi bernuana magis.  Ternyata imajinasi saya lebay. Film  Silariang ini jauh sama sekali dari aroma film mistis :)

Gimana yang ketiga?  Ini yang paling banyak bikin air mata saya menderas.  Ga tega untuk  menceritakannya,  karena bakalan jadi spoil :). 

Overall, dari segi peran,  ga usah diragukan lagi  kalau Dewi Irawan juaranya  memainkan ekspresi judes atau  datarnya mengungkapkan ekspresi. Boro-boro jadi mertua,  jadi ibu kandung pun kok saya merasa kesan yang ga enak. Kaku.  Termasuk ketika ia menyelendangkan kain pada Laikha.

Walau pernah bermain untuk film dengan judul  yang hampir sama (juga bareng Bisma Karisma) di awal tahun 2017, Andania Suri dalam beberapa adegan masih kurang ekspresif  memainkan porsinya.  Justru buat saya,  pencuri perhatian di sini adalah karakter Akbar dan Dira yang bermain natural dan luwes. Kadang  menggelikan juga  kadang mengharukan.  Jauh  dari tipikal  tetangga yang menyebalkan.  Dalam beberapa scene, setiap melihat Dira,  saya jadi ingat sama karakter Novi di film Marlina.

Baca juga Marlina Si Pembunuh Dalam  Empat Babak

Terkadang saya merasa linu ketika Laikha harus naik turun tangga dengan perut  yang membuncit,  Pegel iya, belum ngeri membayangkan jatuh kepeleset.  Dan masih soal pasangan mamah dan papah muda juga saya sempat dibuat tersenyum ketika Yusuf si anak orang kaya  yang ga bisa ngepel lantai atau  salah tingkah ketika Dira memintanya mengambilkan air hangat saat Laikha akan melahirkan.   Tanpa mengurangi  suasana haru,  apa yang dilakukan oleh Yusuf adalah hal yang alami dan mungkin saja dialami oleh banyak para papah muda atau juga letupan-letupan kecil ketika mereka berdua bertengkar. Cinta banget iya, tapi kita juga belajar kalau yang namanya cinta banget bukan jaminan pernikahan yang didasari cinta itu bakal bebas dari ketidakcocokan atau berantem.

So you know,  padahal belum merit? Tapi kan, saya ngamatin juga dari sekitar, jadi ga asal ngomong. :)
 foto: bintang.com
Film Silariang Cinta Yang (Tak) Direstui.   ini  bukan saja mengeksplorasi  cantiknya kelokan  sungai-sungai  sebagai sarana transportasi di sana tapi juga sarat dengan simbol-simbol  budaya  selain pakaian adat.   Misalnya saja ada adegan  jamuan teh,  ketika utusan ayahnya Yusuf datang ke rumah orangtuanya Laikha. Dari ekspresi tamu dan tuan rumah, kita bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan walau wajah berhias senyum. Atau badik (senjata khas mirip keris) yang berkali-kali muncul dalam film. Juga kain  yang disampirkan oleh Rabiah pada Laika juga dilakukan oleh Laikha pada putrinya. Ini memberikan kita pengetahuan baru akan kekayaan budaya di Indonesia selain kosa kata tentunya. Di sana kalau ada yang bilang kita, itu artinya kamu atau anda. Kadang-kadang cukup singkat dengan sebutan Ki, dan Ta saja. Yang matanya rada siwer atau minus kayak saya  pilih row  yang agak ke bawah biar bisa baca sub title dengan jelas dan nyaman, ya. Asik lho mempelajari  bahasa daerah, walau banyak yang nguap setelah keluar dari bioskop :). Minimal ada yang nyangkut.

foto: makasar.tribunnews.com
By the way,  film Silariang ini juga secara halus mengkritik jomplangnya  fasilitas dan infrastruktur antara kawasan Indonesia barat  (terutama pulau Jawa) dengan Indonesian timur lainnya.  Bukan cuma akses angkutan yang susah, fasilitas umum dan sosial juga  yang bisa menguji kesabaran.

Bayangkan saja,  pasar di sana cuma ada satu kali dalam seminggu,  itu pun jarak dan waktunya sangat terbatas. Yang masih ngomel ongkos mahal, cobalah  untuk merasakan  ke mana-mana harus naik pete-pete dulu lalu disambung angkot dengan durasi  yang terbatas. 

Tapi selalu ada surga tersembunyi  kalau kita bisa melihat dari sisi lain. Sinematografi film  ini  bisa membuat para penonton menambahkan Makasar dan Pare-pare  masuk dalam wishlilst atau itenerary jalan-jalannya.  3,5 dari 5 bintang saya sematkan untuk film ini. It means, recomended, dong.

Terakhir kali saya liaht jadwal di XXI,  film ini sudah turun layar.  Hiks, sedih.  Entah sampai kapan untuk layar di CGV Miko Mall akan bertahan.  Kalau masih ada di bioskop terdekat,  sempatkan untuk nonton, ya.

  • Share:

You Might Also Like

25 komentar

  1. Seru bangey filmny. Pengen liat Bisma akting juga sih 😂

    BalasHapus
  2. Yah.. Telat deh mo nonton jg. Kek nya seru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaa sayang lho, Mi. Padahal ini filmnya kuereeen lho.

      Hapus
  3. Penasaran pengen nonton filmnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngomong-ngomong kita udah lamaaa banget ga nonton bareng, ya, Tian? Kuy ah agendain kita nonton apa gitu.

      Hapus
  4. duh bisma yang mainnya lagi, jadi pengen nonton

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Ra. Bisma amen untuk dua versi film yang judulnyan mirip-mirip. Yuk nonton bareng film lainnya :)

      Hapus
  5. Ish..jauh2 kali dua bioskok itu. Tapi resensi ini juga udah cukup mewakili ceritanya deh, walo penisirin sama adegan ketiga....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya, Teh. Jauh tapi sepadan lah dijabanin. Keren sih filmnya.

      Hapus
  6. Pengen nonton film di bioskop lagi. Terakhir kali nonton pas hamil Akmal 6 tahun lalu :((

    BalasHapus
  7. Bisma yg meranin? Jadi penasaran saya. Tapi nggak ada temen nonton, huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku temenin deh buat nonton film laennya, Dy.

      Hapus
  8. Betah banget baca resensinya teteh.
    Sedikit-dikit ada spoiler gak apa-apa kali teeeh...wkkwkk...**ngrayu.

    Teliti banget kalo nonton, teh..
    Padahal di bioskop dan cuma sekali.

    Aiih...
    Banyak dapet ilmu main-main ke sini.


    **Laaff, teh Efi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. No way ah spoiler mah. Harus fokus kalau nonton mah biar ga belah beloh kenapa gini kenapa gitu hihi

      Hapus
  9. ini film nya masih ada di bioskop ga yaa.. Telat taunya :(

    BalasHapus
  10. waaw ada Bisma,paporit aku, sempat lihat bannernya, cuma ko bentar banget ya udah turun layar lagi.
    Apa kurang antusias yaa penontonnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga tau deh, Nchie. Padahal ini storynya tentang love yang disukai remaja.

      Hapus
  11. Keren bgt filmnya... Bakal bikin hati nyeseuk nih ya...

    BalasHapus
  12. Baca review-nya saja sudah menarik apalagi ada iming-iming sinematografi yang keren dengan pemandangan alam yang indah, jadi pengen nonton ih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Ran. Nanti kalau ada filmnya di tv kudu nonton, ya.

      Hapus
  13. Film yang mengeksplorasi tradisi selalu menarik ya, Teh :)

    BalasHapus