Kuntilanak (2018): Horor Rasa Petualangan Anak

Juni 24, 2018

Kalau disebut Kuntilanak, hal yang pertama kali terbayang adalah sosok hantu perempuan berbaju putih, rambut panjang acak-acakan dengan tawa melengking. Sosok hantu perempuan  yang paling melekat dalam ingatan saya adalah karakter Mak Lampir dan hantu  Suketi (Suzanna) yang pernah populer tahun 80an akhir dengan film Malam Satu Suronya itu.  Walau di sisi lain, ada yang bilang kalau  Kuntilanak itu berbeda dengan Sundel Bolong (hantunya Suketi). Intinya hantu perempuan yang menyeramkan, buat saya selalu identik dengan sosok seperti ini.

Waktu nonton fim Kuntilanak (2018) bukan cuma menolkan ekspektasi saja saat saya membenamkan pantat di kursi penonton. Menetralkan perasaan termasuk ekspresi ketakutan sebisa mungkin saya lempar jauh-jauh. Demi jaga imej, jangan sampai saya berteriak kencang sendiri (karena kaget)  seperti waktu nonton film Pengabdi Setan dulu. Sumpah malunya itu ga nahan. 
film kuntilanak 2018
sumber: 21cineplex.com
Lebaran kali ini, saya menyempatkan waktu untuk nonton film besutannya Rizal Mantovani  yang diproduksi oleh MVP Pictures. Menampilkan 5 aktor/aktris anak-anak sebagai tokoh utama, membuat film yang durasinya 105 menit ini memberi pengalaman baru buat saya. Film-film sebelumnya pun sudah banyak menampilkan karakter anak hanya saja kali ini 'pengalaman dari sudut anak' terasa kental sekali dalam film bergenre horor. Bukan ketakutan yang mencekam tapi jadi sebuah petulangan dari 5 anak yang polos, bandel dan penasaran yang mewarnai.

Film dibuka dengan adegan Anjas yang mencari-cari ibunya. Setelah kain putih yang menyelubungi sebuah cermin antik, Anjas mendapati ibunya yang sudah meninggal kembali hadir lalu membawanya pergi ke dunia lain. Adegan berikutnya disusul dengan cerita 5 anak-anak di mana Dinda (Sandrina Michelle) dengan 4 saudara angkatnya  yaitu Kresna (Andryan Bima) yang jago bahasa Jawa, Panji (Adlu Fahrezy) yang chubby dan jail, Miko (Ali Fikry) si kutu buku yang penakut, dan si bungsu Ambar (Ciara Nadine Brosnan) harus berpisah selama 3 minggu dengan ibu angkatnya, Donna (Nena Rosier). 
film kuntilanak 2018
sumber: youtube

Seorang mahasiswa bernama Lidya (Aurelia Moeremans) ditugasi untuk mendampingi mereka. Lidya dan kekasihnya, Glen (Fero Walandouw), seorang host acara mistis di tv berniat memberi suprise berupa cermin antik pengganti cermin di kamar Donna yang sudah retak.  Belakangan kemudian cermin ini malah menciptakan teror dan mengundang Kuntilanak yang ingin menculik ke-5 anak-anak ini.
Sepanjang pengalaman saya menonton film-film bergenre horor,  ada benang merah cerita berupa dendam atau urusan yang belum selesai dari sosok hantu dengan korban yang diterornya. Tadinya saya pikir hantu Kuntilanak ini adalah ibunya Anjas yang entah dengan alasan apa tiba-tiba meninggal begitu saja. Seperti dibilang oleh ayahnya Anjas (Aqi Singgih), kalau itu sudah takdirnya.  Oke, di awal saya pikir ada rahasia yang disembunyikan oleh ayahnya Anjas tapi kemudian kesimpulan saya berubah. Sosok ayah Anjas hanya tampil sesekali dalam film malah tidak diincar oleh Si Kunti. Ayahnya Anjas digambarkan sebagai orang gila. Walau dari pakaiannya masih terlihat waras, cuma raut mukanya saja yang lebih cocok jadi penjahat, khas teroris di film-film anak.  Sementara  kalau sosok Kuntilanak ini iseng, senang menculik anak-anak untuk alasan yang tidak dipahami kecuali membenarkan deskripsinya sebagai hantu penculik anak. 
film kuntilanak 2018
sumber: kapanlagi.com
Terlepas dari kebingungan saya dengan motif Kuntilanak menciptakan teror, saya cukup menikmati pengalaman menonton film ini dari sisi lain. Jump scare yang muncul tidak terlalu berlebihan walau cukup mainstream seperti mimpi buruk atau kemunculan kucing hitam yang mengagetkan.  Kejailan anak-anak yang bermain ala-ala tentara yang sedang mengintip target Lidya dan Glen agar tidak pacaran, tantangan sayembara bernilai 10 juta untuk yang bisa membuktikan keberadaan hantu kuntilanak memdominasi adegan demi adegan dalam film ini. Aktingnya Ciara dan Ali Fkiry ini paling sukses mencuri perhatian dan memecahkan tawa. Akting mereka natural, khas anak-anak. I love them!   

Ada satu adegan ketika hantu Anjas memberikan beberapa gambar petunjuk (lebih mirip teka-teki) yang harus dipecahkan.  Dinda sebagai anak 'gifted' yang paling sering diincar hantu, disusul oleh Miko dan Ambar. Lidya dan Glen tidak terlalu banyak memberi pengaruh pada cerita kecuali insiatif mereka untuk mengganti cermin di kamar Tante Donna.

Yang menarik dari film ini adalah petunjuk paku. Yang pernah menonton film Malam Satu Suro, pasti ingat kalau paku ini seperti tombol on off untuk mentransformasikan sosok hantu. Dulu sebelum menjadi manusia, Suketi ditancapi paku dan berubah menjadi hantu ketika pakunya dicabut. Fungsi paku di film ini jadi berbeda ketika Dinda harus menyelesaikan misinya untuk menyelamatkan saudara-saudaranya dari incaran Kuntilanak. Teka-teki yang kemudian tersisa dalah ada apa dengan ibunya Anjas, dan siapa sebenarnya yang jadi Kuntilanak masih membuat saya penasaran.

Walau tidak terlalu menakutkan seperti film-film horor lainnya,  ada beberapa hal yang membekas bagi penonton.  Hal-hal yang berbau antik atau tembang jawa berjudul "Lingsir Wengi" mungkin sedikitnya akan membangkitkan sensasi horor saat sedang sendiri di malam hari. Catatan tersendiri buat saya juga kalau sudah berurusan dengan yang antik, kesan mistis kadang membuat saya agak merinding. 

Alih-alih menghadirkan sensasi seram setelah menonton, Rizal Mantovani menawarkan sudut pandang tersendiri dalam penggarapan film horor ini. Petualangan anak yang dominan menjadikan film ini lebih menghibur dengan kelucuan anak-anak dibanding muka seram dan jelek dari sosok hantu Kuntilanaknya. Film ini cocok bagi yang penasaran ingin nonton film hantu tapi emoh dengan efek kepikiran takut ke toilet malam-malam sesudahnya.

Skor 6,5 dari skala 10 saya kasih buat film ini.
film kuntilanak 2018




  • Share:

You Might Also Like

19 komentar

  1. waduh kalau aku mah takut kl nonton horor

    BalasHapus
    Balasan
    1. HIhi aku juga masih pilih-pilih sih kalau liat film horor. Tapi sekarang film hantu ga sengehe film-film horor lainnya. Selain ga ada lagi unsur sexnya lebi entertaining. Film Pengabdi Setan yang masih juara soal nyeremin mah

      Hapus
  2. Film horor rasa detektif yah ini mah 😄

    BalasHapus
  3. Huaaa aku mah cemen ga bisa nonton horor wkwkkw, sieunan. Baca resensinya aja udah bikin merinding komo mun nonton hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi susah ya kalau udah males atau takut duluan. Aku juga dulu gitu, setelah sekian taun baru bernai nonton

      Hapus
  4. aduhh seru kayanya. next cobain nonton film horor barengan yuk teh :)

    BalasHapus
  5. Pas lihat poster film ini, Fathan pengen nonon, tapi aku tolak, menurut efi, film ini bisa ditonton oleh anak-anakkah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aman, kok Ran. Lebih ramah anak. Nakut-nakutinnya dikit Malah ada anak yang nonton ini (duduk di depan deretanku) banyak nanya kenapa gini kenapa gitu tapi ga kedengeran takut. Lempeng aja. Yang ada aku malah ketawa geli karena lucunya anak-anak yang maen

      Hapus
  6. Jadi ini bukan lanjutan dari yang Julie Estelle ya teh? btw kalo denger lingsir wengi ini udah identik sama kuntilanak, suka terngiang-ngiang dan malah jadi ngeri.
    Malam Satu Suro itu juara banget dong, dulu nyeremin pisan tapi sekarang cekikikan kalo nonton lagi :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan, Nes. Beda, kok. Hahaha iya ih Malasin banget tuh Malem Satu Suro walau ada lucu-lucunya. Hantu versi Suzanna itu paling neplok imejnya. Film jadul malah hantunya lebih nyeremin

      Hapus
  7. Atuuut, mau ditraktir si kaka, ogaaah! Ma, atulah ntar ditraktir kopi plus makan plus nonton, malees!

    BalasHapus
  8. Abis baca ulasan Teh Efi kok malah jadi kepengin nonton filmnya ya. Soalnya kata Teteh lebih dominan petualangannya. Aku mah penakut anaknya, kalau super serem mendingan gak nonton daripada ketakutan terus.

    BalasHapus
  9. Apa pun tema dan alurnya, saya tetep ga berani nonton film horor. Efek seremnya melekat lama di hati. eaa...

    BalasHapus
  10. Paling suka film horor plus dibumbui teka-teki ala CSI dan sangat susah ditebak.
    Ikut-ikutan mikir endingnya, hahaha...
    Sedaaap itu...!
    Apalagi sambil ngemil, pecaaah sensasinya ^^.

    BalasHapus
  11. Oh, seru ya banyak petualangannya, tp kok saya ngebayanginnya tetep serem hihi...

    BalasHapus
  12. keren nih film, horor tapi ada detektifnya juga hehe

    BalasHapus
  13. demen banget nonton horor, kak. XD

    BalasHapus