Keluarga Cemara: Mengatasi Konflik Keluarga dengan Cara yang Manis

Konflik dalam keluarga, entah itu antara suami istri atau ayah anak, ibu anak, adalah hal yang lumrah. Bahkan dalam keluarga yang harmonis, rasanya bakalan ada saja letupan-letupan kecil yang muncul. Ya ga, sih?
Seperti letupan yang terjadi  antara Euis  (Adhisty Zara JKT 48) dan Abah (Ringgo Agus Rahman) jadi konflik utama yang muncul dalam film Keluarga Cemara, produksinya Visinema yang rilis 3 Januari 2019 kemarin.
review film keluarga cemara 2018
sumber: mybookshow
Sedari awal,  Keluarga Cemara  sudah memberi petunjuk kalau konflik  akan bergulir antara Abah dan Euis  Walau judulnya keluarga Cemara, konflik yang mengikat Cemara alias Ara (Widuri Puteri) tidak terlalu dominan. Tapi bocah polos ini tetap punya peranan penting dalam penyelesain konflik. 

Pentas dance di mana Euis tampil bersama teman-temannya jadi pembuka konflik. Euis kecewa karena Abah tidak hadir, begitu juga dalam kesempatan lainnya saat Euis merayakan ulang tahun. Masalah jadi semakin rumit ketika dalam waktu yang bersamaan Abah mendadak  bangkrut setelah perusahaannya kena tipu.  Euis pasrah pindah sekolah di tempat tinggalnya yang baru, dengan suasana yang jelas berbeda. Masalah utamanya sebenarnya bagi gadis smp kelas 1 ini bukan perubahan situasi ekonomi keluarganya yang terjun bebas jadi miskin. Berkali-kali Euis kesal karena merasa Abah tidak bisa memahaminya .
review film keluarga cemara 2018
sumber: kincir.com
Ara gimana? Jangan remehkan juga kepolosan anak yang mungkin masalahnya masih cetek dan ga rumit seperti Euis yang beranjak remaja atau suntuknya emak dan abah  agar tetap bisa membesarkan kedua puterinya.

Seperti yang diceritakan dalam satu part trailer, Ara yang masih tk dengan polosnya bilang ga mau berulangtahun lagi karena tidak mau dimarahin seperti yang dialami Euis. Emang ga enak ya kalau dimarahin orang tua terus sementara di sisi lain kita merasa tidak ada yang salah.

Di bagian lain film ini masalah yang dialami Ara juga bisa bikin mewek. Paling suka  sama aktingnya Widuri Puteri. Putrinya Dwi Sasono yang ekspresinya komikal itu ternyata aktingnya menggemaskan sekali di film ini. Buah  emang kalau jatuh ga jauh-jauh dari pohonnya, sih, ya.

Ngomongin soal  konflik antara anak - ortu, Euis beruntung banget. Selain teman-teman sekolahnya yang baik sebagai 'pelarian',  Euis punya guru bahasa Inggris (Gading Marten) yang care,  Emak (Nirina Zubir) yang selow dan gaul dengan potongan rambutnya (meski udah jatuh miskin tetep stylish dan ga keliatan susah pada penampilan atau raut mukanya).

Sementara Abah membanting tulang, kerja serabutan apa saja, Emak mengajak Euis menjajakan Opak di sekolahnya. Awalnya Euis sempat ragu dan risih harus berjualan. Tapi ada Rindu, Deni, Andi dan Ima teman sekelasnya yang membesarkan hati Euis dan membantunya berjualan. Saat pertemuan pertemuan pertama, celetukan Rindu sempat bikin saya mikir kalau Euis bakal dibully. tapi kemudian aku mikir, mungkin itu tipikal ke-kepoan gadis desa hanya untuk mengonfirmasikan keadaan Euis saat itu.

Balik lagi ke konflik Euis dan Abah, ada bagian yang paling  ngena. Euis yang sedang mengalami pubertas akhirnya berani ngomong setelah berkali-kali memendam kekesalannya pada Abah. Lalu Emak  membesarkan hati Euis. Chit chat ibu dan anak ini sukses bikin air mata meleleh.
 "Sabar ya, Teh. Hari-hari pertama itu emang yang paling berat." 

Pesan Emak ini bukan cuma berlaku dengan apa yang dialami oleh Euis tapi juga buat semua anggota keluarga atau  mungkin juga  bagi kita sedang atau dalam situasi seperti yang Euis alami sekaligus pembenaran kalau perempuan yang sedang datang bulan bawaannya emosional gitu.  Tapi memang sih, beradaptasi dengan hal baru atau kekecewaan yang bikin kesel dan  gondok itu ga gampang. Tanpa solusi, ada orang yang mau mendengar curhatan kita, sekadar usapan lembut di bahu atau pelukan untuk menenangkan dan omongan seperti itu rasanya  nyesss banget ke hati.

Sekalem-kalemnya Emak atau secueknya Ara, sebenarnya mereka juga punya masalah sendiri. Ya samalah dalam kehidupan nyata. Mereka yang kelihatan anteng sebenarnya juga punya masalah.   Di versi serial tv tuh kan digambarkan kalau anak-anaknya Abah itu ada tiga; Euis, Ara dan Agil. Di film ini, Agil memang dalam konfirmasi 'coming soon'.

Waktu Emak mengonfirmasikan akan hadirnya Agil, Abah yang sebenarnya lagi suntuk gimana caranya bisa menafkahi keluarga menunjukkan ketegarannya dengan cara meminta Ara berkomentar.Di lain kesempatan, Emak juga berusaha menguatkan abah dalam scene yang bisa bikin melting.
review film keluarga cemara 2018
sumber: kapanlagi.com
Becak dan opak sebagai ikon versi serial tv tetap  muncul di film ini.  Hanya saja memang ga jadi properti yang sering muncul, karena Abah 'banting setir' jadi driver  Gojek. Sama kayak Emak yang bengong, aku juga bingung kenapa Abah bisa punya motor gress buat nge-Gojek? Begitu juga soal opak. Selama ini taunya ukurannya lumayan gede dan tampilannya yang di film ini lebih mirip emping. Juga kepikiran kenapa opak  ga dikemas lebih modern gitu, ya?. Jadi opak balada, opak bumbu barbeque atau apa gitu? *gini deh kalau udah terkontaminasi micin :D*  

Sepanjang 110 menit film besutannya Yandy Laurens, film yang naskahnya ditulis oleh Ginatri S Noer ini ga melulu bikin mewek. Kehadiran Ramli temannya Abah tau Ceu Salmah (Asri Welas) juga lumayan mengurai mewek jadi ngekek alias tertawa. Sayangnya Tante Pressier (Maudy Kusnadi) kurang kelihatan  nyebelinnya di sini. Ekspresi juteknya sih udah dapat, dikit. Penasaran juga karena imej Maudy yang udah kadung melekat sebagai sosok yang lemah lembut.

Konflik yang dialami oleh Abah, Euis, Emak dan Ara menemukan penyelasaiannya masing-masing dengan cara yang manis. OST Keluarga Cemara yang dinyanyikan dengan 'rasa baru' oleh Bunga Citra Lestari bakal lebih sering diputar, entah itu youtube, aplikasi pemutar lagu atau nyanyi-nyanyi sendiri. 

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga....


Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

1 comment:

  1. Ini tontonan favorit aku teh waktu kecil, makanya seneng banget pas dibuat jadi movie gini. Selalu sukses bikin sedih dan ngena banget yah ceritanya

    ReplyDelete