Novel Gia, The Diary of a Little Angel

Februari 14, 2018

Aku tak ingin sakit, aku benci sakit seperti aku membenci matematika.  Tapi kenapa begitu sulit menghindri dari sakit seperti sulit pelajaran matematika yang ingin kuakrabi? Padahl sudah aku bilang I love you matematika, seperti kata Mamah Biar matemaika terasa gampang , maka aku harus menyukainya terlebih dahulu. Nah kalau penyakit? Apa aku harus bilang I love you sakit? Gimana kalau sakiynya semakin nempel di tubuhku? Aku kan belum puas bermain sama Lulu dan teman-teman di kelas.  Belum puas ngobrol dengan Bu Nia. Kalau aku sakit terus, bagaimana aku mau main?

Gia, The Diary of a Little Angel - halaman 44


Waktu membaca halaman ini saya dibuat tersenyum, sama halnya juga ketika Tasaro, moderator dalam acara talkshow buku ini pada bulan Januari lalu di Gramedia Merdeka, Bandung, membuat pengujung tersenyum dibuatnya.  Buku yang ditulis oleh teman saya, Teh Irma ini,  berdasarkan  cerita nyata dari seorang gadis kecil bernama lengkap Nazila Apregia Reigane atau yang akrab disapa dengan panggilan Gia.

Dunia anak-anak seusia Gia adalah dunia yang polos, penuh kesenangan bermain-main dengan teman-teman sebaya disela-sela sekolah sebagai rutinitas hariannya.  Yang membedakan Gia dengan yang lainnya adalah kesabarannya dalam menghadapi kenyataan ketika ia harus bergulat melawan penyakit Acute Myeloid Leukemia (AML). Penyakit  yang jarang ditemukan pada anak-anak seusianya. Qadarullah, dengan keceriaan dan kecerdasan  emosi  yang juga langka ditemukan pada anak-anak sepantarannya,  bagaimana kesabaran dan kelapangan hatinya menerima ujian ini  membuat saya  yang sudah dewasa jadi malu sekaligus terpesona dibuatnya. Meni kayungyun, kata orang sunda, mah. Hmmm.  apa ya alih bahasanya dari kayungyun ini?  Semacam seseorang yang perilaku dan sikapnya bikin kita sayang dan jatuh cinta. Tapi yang ini dalam makna yang lebih universal, ya.

Dulu, waktu masih SD pun saya  pernah punya diary. Bedanya waktu itu diary  saya berisi nama, biodata, ungkapan kata mutiara dan pesan kesan dari teman-teman sekelas atau sepermainan. Ada yang pernah mengalaminya? Yang seusiaan saya pasti inget dong, ya :) Ada juga curhatan, tapi  malu lah kalau mau membandingkan isinya dengan curahan De Gia.  Bocah kecil ini menjadikan diary sebagai curahan hatinya, khas dengan gaya bahasa anak-anak, tapi sarat dengan pesona kecerdasannya itu tadi. Jangankan di usia yang sama dengan Gia, saat seperti ini saja, kadang ada aja hal-hal yang bikin saya bete, gloomy dan perasaan campur aduk lainnya  yang sebenarnya bisa disenyumi dan dijalani, bukan diratapi. Malu saya.  
Dear diary,...


Cairan infus di tangan kananku lagi-lagi macet, Artinya, suster akan kembali menusukan jarum sutnik. Aduh, aku capek, ditusuk sana sini.....

Aku juga sebetulnya capek kalau nangis terus. Capek nangisnya, cape juga sakitnya. Ya udah, aku pasrahin aja sama Allah. - halaman 79


Di beberapa halaman awal, dalam buku setebal 140 halaman ini  saya masih bisa tersenyum membaca keseharian Gia. Gia yang rajin menyiapkan keperluan sendiri, masih sempat mengepel halaman rumah setiap sebelum pergi ke sekolah, suka bercanda dengan kakak atau pengasuhnya, atau Gia yang suka membela teman-temannya ketika ada yang jail.  Sampai kemudian saya mulai lebih sering merasakan bola mata terasa hangat dan susah berhenti menangis ketika Mamanya Gia membesarkan hati Gia yang harus bolak balik Bandung-Ciamis untuk mengobati sakitnya.

"Kunci untuk bisa sembuh juga, salah satunya kita mau berdamai dengan penyakit yang menyerang. Jangan diratapi, tapi terima apa adanya dengan ikhlas," halaman 67
Entahlah, saya ga bisa untuk tidak menangis.  


Selain dari paparan mamahnya, Dr Chusna Arifah, M.Pd.I, beberapa bab yang saya baca menguatkan gambaran kalau Gia adalah seorang pribadi yang memiliki kecerdasan Feeling. Beberapa karakter kecerdasan feeling yang dimiliki Gia misalnya saja ia suka membagi uang jajannya untuk teman-temannya,  atau di waktu lain Gia pernah membobol celengannya untuk membelikan salah satu temannya tas sekolah, pandai berempati di mana ketika sakit parah pun Gia ingin menengok pengasuhnya yang terkena stroke.

Walau tipis,  perjalanan kisah Gia dalam buku ini mengingatkan kita sebagai pembaca tentang kecerdasan menata hati. Ada banyak cara Allah mencintai kita namun tidak harus selalu dalam limpahan materi dan kebahagiaan.  Saya lupa redaksi lengkapnya.  tapi seingat saya salah satu sabda Rasulullah, istimewanya seorang muslim itu adalah syukur dengan nikmat yang didapat dan sabar dengan ujian yang diterima.  Dan saya malu, kalau mengeluh atau berkesal hati padahal  masih banyak hal-hal lainnya yang pantas untuk disyukuri.

De Gia, terimakasih banyak ya,  sudah memberikan banyak inspirasi.

  • Share:

You Might Also Like

1 komentar