Review Film Eiffel I'm in Love 2 (2018)

Kalau ada orang  yang senang dijodohkan, meski dijalani dengan drama ribut  semacam perseteruan Tom dan Jerry,  mungkin karakter Adit dan Tita dalam film Eiffel I'm in Love adalah contoh personifikasi yang pas. Masih dengan cast yang sama (kecuali Didi Petet yang sudah meninggal) Eiffel I'm in Love 2 ini mengajak kembali para penontonnya di tahun 2003 lalu bernostalgia sekaligus mengetahui bagaimana ujung penantian Tita.

Antara geli campur sebel sih pas mengikuti film ini. Geli ya karena relasi love and hate collide antara Adit (Samuel Rizal) dan Tita (Shandy Aulia) itu ngegemesin. Sama saja kayak di film sebelumnya,  setiap berantem pasti sesudahnya mereka sayang-sayangan lagi, romantis-romantisan lagi, eh jaim, terus sok  ngambek.  Begitu terus seperti siklus rantai makanan, ga ada beresnya.  
foto: jadwalnonton.com
Kalau (lagi)  sudah nonton trailernya, Tita yang sekarang memang masih sama dengan Tita yang dulu. Bedanya,  sudah dewasa, dan makin cantik. Sisanya? Rasanya kita seperti melihat gadik SMA kelas 1 yang kolokan, manja dan labil terperangkap dalam tubuh wanita dewasa 27 tahun.  Ini  bikin saya keingetan kalau yang namanya usia dan kedewasaan ga selalu berbanding lurus.  Eh tapi, Saya pernah nemu orang seperti itu, walau profesinya jauh beda, sih :)

Adit dan Tita itu sudah dijodohkan sejak lama. Pertemuan keduanya berjalan mulus dalam arti ga ada penolakan dari salah satu mereka. Kecuali drama-drama berantem terus sayang-sayangan merekanya itu tadi. Adit yang belagu, sok tau dan kurang ajar sebenarnya  punya sisi romantis dengan bunga-bunganya. Sementara itu, Tita yang tetap menyukai burger dan milk shakenya McD masih seorang gadis manja, kolokan dan  plin plan. Tapi dia  juga anak yang manis walau punya ibu yang protektif dengan aturan jam malam yang bisa memancing naluri rebelious kalau kita ada di posisinya.   
   
Mengambil seting di Jakarta dan Paris, Eiffel I'm in Love 2018 kali ini disutradarai oleh Rizal Mantovani. Sementara di film pertama dulu, Eiffel I'm in Love, kan, disutradarai oleh Nasri Cheppy, yang nota bene sama seperti Didi Petet yang sudah almarhum. Walau begitu, bagi saya, feel antara  film lama dengan sekarang tidak jauh berbeda. Rizal Mantovani seakan punya buku resep rahasia untuk meracik film ini dengan cita rasa yang sama. Yang beda palingan penampakan para cast yanag udah lebih dewasa atau menua. Misalnya Uni  (Saphira Indah) yang dulu kalau ngomong suka nyerocos,  jadi lebih dewasa walau  emosinya perempuan masih ada.  Lalu ada juga para ART atau sopir  yang setia dan ini nih, papa dan bundanya Tita juga ga mengalami perubahan. Bunda (Hilda Arifin) yang sekarang pake jilbab tambah cantik. Sementara , Helmy Yahya  papanya Tita,   selalu bikin saya keingetan dengan acara talkshow atau kuis-kuis di tv yang dipandunya.

Drama masih suka nguping di balik dinding atau pintu,  atau tersungkur di depan pintu setelah ketahun ngintip juga masih ada di versi 2018 sekarang ini.   Latar film dan karakter para pemain  yang tidak banyak berubah, justru menurut saya yang membuat chemistry antara film dengan penonton tetap terjaga. Jarang-jarang lho, saya suka dan menikmati sekali film bergenre drama komedi untuk remaja. 

By the way, saya penasaran sama rahasia awet mudanya Hilda Arifin.   Jangan salahkan orang kalau melihat bunda dan Tita jalan bareng lebih mirip Tante dan Ponakan atau kakak sama adiknya hahaha.... Di film-film lain, saya suka iseng mikir kalau tokoh yang digambarkan di mata saya kurang kelihatan  tua di polesan make-upnya.  Untuk Bunda saya  selow aja, lah. Kan, orangnya memang masih sama,  ditambah  ada rentang waktu 15 tahun antara film pertama dan kedua.  Kenapa juga mesti dikasih make up agar tampak lebih tua? Ya, kan? Beberapa Artis  film memang ada yang cantiknya  kayak dipoles formalin, awet. Hilda Arifin ini contohnya.

Di tahun 2003  ada Ergi, Farah  dan Intan yang jadi orang ketiga dalam relationship Adit dan Tita. Di film 2018 ini, ada Celine dan Adam (diperankan oleh Marthino Lio) yang ada di posisi itu. Menjadi anak mami yang masih belum  boleh punya handphone (kalau saya jadi Tita udah nangis darah), adanya hadiah iPad dari Adam  tidak membuat Tita kena semprotan atau larangan Adit untuk tetap keep in touch dengan sahabatnya itu.  Walau di sisi lain,  Adit  tidak percaya adanya persahabatan biasa saja dalam hubungan antara cewek dan cowok.  

Dulu Ergi harus babak belur dihajar Adit, sementara  alasan persahabatan yang sudah lama terjalin antara Tita dan Adam tidak membuat Adit jadi ringan tangan melayangkan bogemnya pada Adam.  Mungkin karena Adit sudah lebih mature (walau cueknya dan jaimnya masih seperti dulu), tapi bisa  juga Adit tidak mengganggap Adam sebagai rival berat untuk mempertahankan Tita.  Kehadiran Adam malah saya jadi pengin bikin koalisi poros tengah, sebagai timnya Adam hahaha...  Duh, padahal adanya someone come between itu nyebelin. But anyway,saya ga bisa menampik kalau Adam itu charming. 
foto: 21cineplex.com

Sepanjang film ini, ada banyak part yang bikin saya tertawa geli mengikuti 'dramanya'  Adit dan Tita. Walau ngeselin tapi lucu dan menghibur.  Ditambah lagi  Uni yang posisinya sekarang jadi kakak ipar,semakin terlibat dalam cerita cintanya Tita mempunyai peran kuat mewarnai cerita.  Salah satu part waktu Uni melabrak Celine adalah adegan yang bisa memecahkan tawa dan memorable. Ah ya, jangan lupakan juga quality time yang terjadi saat Bunda dan Tita jalan-jalan. Imej ibu yang protektif tidak membuat Tita sungkan untuk curhat soal hubungannya dengan Adit  yang menggantung. Alih-alih sebagai ibu yang nyebelin karena banyak aturannya itu, saya merasa Bunda malah sahabat terbaik yang ngerti betul siapa Tita.  

Saya suka bagaimana alur konflik dalam film terjalin, sehingga tidak membuat saya harus memaksa membuat mata tetap melek untuk tahu kepastian hubungan Adit dan Tita setelah belasan tahun berlalu. Kalau Tita ngeselin karena kolokannya, saya pengen jitakin Adit yang jaimnya over dosis. Sinematografi film terutama saat berada di Paris  yang romantis juga jadi salah satu poin film ini recomended untuk ditonton. 3,6 dari 5 bintang saya sematkan untuk film Eiffel I'm in Love. 

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

3 comments:

  1. Replies
    1. Ayo Teeeh, nonton. Seru, lucu dan gemesin haha

      Delete
  2. wah keren juga nich filmnya tapi saya belum nonton yang kedua ini, tidak sempat

    ReplyDelete