Kapan terakhir kali membaca novel beraroma teenlite? Yuk, ngacung dulu. Ga usah jaim walau udah lamaaa banget lewat :).
Saya baru aja seminggu kemarin menamatkan sebuah novel teenlite. Tiba-tiba aja rasanya kayak terhisap mesin waktu, terus jadi mahluk hologram yang bisa lihat dari dekat perjalanan tokoh utamanya.
Walau beda masa (((masa))) apa yang dialami oleh Judith (tokoh utama novel ini dan juga jadi judul novelnya) sebenernya masih related dengan apa yang pernah terjadi pada anak-anak SMA belasan tahun silam atau lebih. Palingan printilan lain semacam gadget gitu aja yang berbeda. Kalau udah usia 30an atau lebih, bakalan suka juga baca ceritanya Judith ini.
Walau beda masa (((masa))) apa yang dialami oleh Judith (tokoh utama novel ini dan juga jadi judul novelnya) sebenernya masih related dengan apa yang pernah terjadi pada anak-anak SMA belasan tahun silam atau lebih. Palingan printilan lain semacam gadget gitu aja yang berbeda. Kalau udah usia 30an atau lebih, bakalan suka juga baca ceritanya Judith ini.
Pssst.... terus skrol ke bawah dengan seksama, ya. Jangan buru-buru left, soalnya di akhir tulisan ini saya mau bagi-bagi bukunya sebanyak 5 eksemplar. Mayan, kan? Jadi ini dia novel yang mau saya ceritain kali ini.
Judul Novel : Judith
Genre : Teenlite
Penulis : Bayu Indie
Editor : Deasy Serviana
Editor Supervisi: Risma Megawati
Desain Sampul : Setiawan Agung Cahyono
Grafis : Ikmal Aldwiansyah
Tebal : 253 Halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama - M& C 2017
Blurb:
Judith, cewek SMA yang tomboi dan sering tertimpa masalah karena gayanya yang serampangan. Suatu hari, ia diajak "pacaran" oleh temen berantemnya. Biyan! Tujuannya? Untuk membuat cewek yang ditaksir Biyan!
Lalu bagaimana ketika status "pacar sementara" ini malah menimbulkan getaran cinta yang sebenarnya.
Sejak pertama kali liat sampulnya, saya langsung kepincut sama novel yang segmen pembacanya lebih menyasar dedek-dedek emesh yang pantaran SMA-an. Kombinasi biru dan pinknya cakep banget. Ditambah senyum kenes seorang gadis pada sampulnya, menggambarkan watak anak SMA yang tomboi tapi manis. Manisnya ga bakan bikin diabetes, kok. Jadi ga usah cemas lah ya punya gebetan macam Judith.
Eh, cemas? Wait. Yakin ga cemas?
Judith, anak SMA kelas XI IPS di SMA Dwi Tunggal ini emang bawaannya cuek setengah hidup (setengah mati berarti setengahnya hidup, yekan?). Tapi di sisi lain dia itu jail, nekat, punya sisi hati yang lembut dan sukar ditebak. Di awal novel, Bayu, penulis buku ini sudah berhasil membangun chemistry dengan pembacanya lewat pilihan kata yang ekspresif.
Makanya tadi di atas saya bilang, rasanya ada deket-deket Judith, walau cuma jadi semacam mahluk hologram yang cuma bisa melihat, merhatiin tapi ga bisa ngapa-ngapain. Ga bisa turut campur selain gemes plus ketawa ngakak karena kejailannya.
Saya kasih bocoran dikit aja, ya, dialog antara Biyan, Judith dan Ella (sahabatnya Judith)
"Ada kelanjutannya?" kali ini Ella yang bertanya.
Biyan mengangguk. "Untuk memastikan itu ilusi atau bukan, gue WA dia. Kali ini dibalas.Dia bilang, dia nggak marah. katanya, itu hanya perasaan gue aja."
Judith dan Ella semringah, seperti menonton pertandingan di mana regu yang dibela mulai mengejar ketinggalan.
"Gue ajak pulang bareng lagi. Dia mau. Katanya, janjian di pintu gerbang selepas jam pelajaran terakhir..."
"Terus?" Judith dan Ella nyaris serempak.
"Tapi pas bubar sekolah, gue sengaja nggak langsung ke pintu gerbang. Tapi muter dulu ke belakang."
"Ngapain?" Judith ngotot lagi.
"Ngumpulin keberanianlah!"
Cetar membahana.
Udah cukup segitu aja, ya kutipannya.
Awalnya Judith sebel sama Biyan karena posisi strategis yang harusnya diisi oleh temannya yang lain malah diisi Biyan. Buat apa? ngatur strategi nyontek! Pasti tau dong kalau dulu pernah ada anekdot kayak gini "Posisi Menentukan Prestasi."
Awalnya Judith sebel sama Biyan karena posisi strategis yang harusnya diisi oleh temannya yang lain malah diisi Biyan. Buat apa? ngatur strategi nyontek! Pasti tau dong kalau dulu pernah ada anekdot kayak gini "Posisi Menentukan Prestasi."
Dan ternyata sebelnya Judith sama Biyan cuma bentaran aja, berganti jadi getar-getar cinta (ngomong ala Sarah Sechan). Judith mulai enjoy dengan posisi duduknya yang dekat dengan Biyan yang ternyata jago dan lihai dalam hal nyontek :D. Eh, ini sih, sisi dari Biyan yang jangan dijadiin teladan, ya. Di sisi lain, Biyan itu sebenernya asik. Dia jago gambar, baik, peduli sama kawan walau penampilannya ga banget. Urakan, rambut acak-cakan kayak gembel.
Sebenernya di balik rasa sebelnya Judith sama Biyan, diam-diam Judith naksir dia, lho. Cuma Biyan udah kadung punya gebetan lain, Angie!
Sebenernya di balik rasa sebelnya Judith sama Biyan, diam-diam Judith naksir dia, lho. Cuma Biyan udah kadung punya gebetan lain, Angie!
Judith mau aja dijadiin pacar sementara oleh Biyan, cuma buat ngipasin Angie. Di sisi lain, gadis berambut pendek ini ujug-ujug mau jadi pengurus OSIS. Apa lagi alasannya, kalau bukan biar bisa lebih deket dengan Biyan? Bukan kode, karena Judith tau di hati Biyan cuma ada Angie. Apalagi posisinya cuma semacam pemancing. Nyebelin. Tapi kadung cinta, ya, dijalani oleh Judith.
Judith pun menemukan dunianya jadi lebih berwarna sejak menjadi pengurus OSIS. Bukan cuma memuluskan modusnya menggoyahkan hati Biyan tapi dia jadi makin sibuk, lebih sibuk dari Rangga ketua OSIS yang sebenarnya bikin kesel. Sementara buat pengurus OSIS lainnya Judith itu lucu walau nyebelin.
Dibalik cueknya Judith dan sedikit nakal, sesungguhnya dia ga tegaan sama 'musuh'nya. Walau usil, Judith juga punya ketakutan tersendiri, terutama pada ayah ibunya. Tapi bukan Judith kalau dia ga bisa mengatasi ketakutan dan kekhawatirannya. Dengan segala sikapnya yang sulit diduga, Judith selalu punya sejuta cara memutar alur cerita. Dia ini emang banyak banget akalnya.
Cerita cinta ala-ala anak SMA palingan cuma dikasih porsi 30-40%an. Itu pun ga romantis gara-gara kelakuannya Judith juga :) Jangan harap kita bakal menemukan momen termehek-mehek walau Judith sedang dalam posisi galau melow gitu. Karena itu tadi, Judith pantang menyerah, banyak akal. Bahkan Ella yang jadi sahabatnya pun dibuat bingung ngejabanin tingkah Judith. Saya lebih banyak dibuat tertawa jadinya. Kalau punya sahabat seperti Judith, saya juga bakal bingung lihat dia bersedih karena air matanya cepet banget mengering.
Terus gimana sama Biyannya? Berhasil jadian, ga? Hmmm... kasih tau ga, ya? Ah gini aja, biar ga penasaran, saya mau bikin give away berhadiah 5 eksemplar buat pembaca blogpost ini. Begini syarat-syaratnya:
- Yang pertama, kalian wajib mem-follow akun IG saya (@efi_thea) dan Bayu Indie (@bayu.indie) atau akun twitter @efi_thea.
- Lalu jawab pertanyaan ini, ya. Pernah ga waktu SMA (SMP atau kuliah) dijadiin 'ban serep' sama orang yang kita sukai? Nah, apa reaksi kalian saat itu? Atau kalau ga mengalaminya bisa jawab pertanyaan ini: Kenakalan sperti apa yang pernah dilakukan waktu SMA dan takut banget ketauan sama ortu? Jawab salah satu saja, ya di komentar blog ini. Ga usah dua-duanya.
- Repost postingan instagram Give Away https://www.instagram.com/p/Bhm_Bl2BxfW, atau posting link blogpost ini di twitter/facebook, lalu mention 3 orang teman buat ikutan give away ini. Pastikan teman-temannya menjawab di komentar blogpost ini, bukan di instagram (kalau ga punya akun blog bisa jawab di kolom komentar FB di bawah postingan ini). Selama periode give away ini berlangsung, akun IG/twitter-nya jangan dikunci dulu, ya. Postingan repost IG yang dihapus sebelum periode give away berakhir dinyatakan gugur.
- Periode give away ini dimulai pada hari senin, 16 April sampai 30 April 2018 dan diumumkan pada tanggal 2 Mei 2018. Akan ada 5 pemilih yang beruntung dengan jawaban paling 'cetar membahana' yang akan mendapatkan masing-masing 1 eksemplar novel ini, plus tanda tangan dan dikirim langsung oleh penulisnya, Bayu Indie.
Udah, gitu aja. Gampang, kan?