Review Film Insya Allah Sah 2

Juni 20, 2018

Diceramahi orang, dibilangin ini salah, harus begitu, ga boleh begini belum tentu semua orang nyaman ada di posisi ini. Ditegur atau dinasehati teman atau saudara yang sudah kenal baik saja belum tentu nyaman, apalagi kalau yang melakukannya itu adalah orang lain. Baru saja bertemu ditambah lagi kalau tampilan fisiknya enggak banget, seperti Raka yang masih diperankan oleh Pandji Pragiwaksono  dalam film Insya Allah Sah 2. Seakan membuat kita ingin ngomel, "Emang, siapa Elu?"

Wajar saja kalau Gani (Donny Alamsyah), karakter napi yang kabur dari Lembaga Pemasyarakatan Dipinang Indah  ini jadi sebal luar biasa. Ia terpaksa harus selalu ditemani Raka, cowok kampungan yang norak  sekaligus bikin kesal.


Masih mengutip quote yang sama dari review saya sebelumnya, "everything happen for a reason" masih berlaku dalam film jilid kedua Insya Allah Sah. Dalam situasi tertentu, Tuhan mengirimkan orang lain yang akan mengubah jalan hidup seseorang. Hal yang sama terjadi juga pada Gani dan Mutia (Luna Maya) yang dipertemukan dengan Raka.
Adegan film dibuka dengan adegan saat Raka yang polos dan lugu terjebak dalam suasana baku tembak bersama  Gani yang  dikejar gembong penjahat  pimpinannya Coughar (Ray Sahetapi). Dasar Raka,  ia tidak  bisa ngerem mulutnya untuk selalu menasehati orang lain, bahkan dalam situasi terjepit pun masih saja sempat 'membimbing' Gani untuk bernazar, bertobat jadi orang yang baik.

Meski masih suka menceramahi, karakter Raka di sini tidak se-annoying saat bertemu dengan Silvi  yang diperankan Titi Kamal (Insya Allah Sah 1). Berbekal pistol di tangannya, Donny lebih mudah mengendalikan Raka untuk tidak terlalu bawel dan banyak ngatur harus begitu atau begini. Sepanjang 91 menit, alur film komedi berbalut aksi laga ini terasa lebih dinamis. Dalam versi kali ini, Insya Allah Sah mengambil sudut pandang dari pihak laki-laki (Gani) yang akan menikah.
Film besutan duo sutradara Anggy Umbara dan Bounty Umbara memosisikan kalau sosok seperti Gani tidak sepenuhnya tidak punya nurani. Pun, kepolosan Raka yang menilai penampilan Mutia sebagai wanita yang  akan menikah dalam keadaan sedang hamil mewakili penilaian umum masyarakat  yang mudah saja menghakimi seseorang  yang seakan penuh dosa  tanpa memberi kesempatan untuk berubah. Curhatan Mutia pada Raka pada satu part terasa 'nonjok', mengajak penonton untuk lebih adil menilai posisinya dan Gani. Dibalik sifat garangnya, ternyata Gani adalah sosok laki-laki yang bisa bikin perempuan mana pun bisa meleleh dibuatnya. 

Walau ada part yang bikin 'meh', Insya Allah Sah  tetap menghibur, termasuk 'gimmick horor' ketika Meriam Bellina sebagai ibunya Yoga (Miller Khan) muncul. Penonton di sebelah kiri saya berseru kesal karena kaget, sementara saya dan bocah di sebelah kanan tertawa ngakak dibuatnya. 

Kalau  tidak sempat menonton Insya Allah Sah (2017) penonton masih bisa mengikuti film ini. Dengan benang merah yang sama soal nazar,  film ini mengangkat masalah dengan  tokoh yang berbeda -  kecuali Raka dan Polisi Sabar (Tanta Ginting) yang tetap konyol dan lebay.  3,6 dari 5 bintang untuk  Insya Sah (2018) ini saya sematkan.

"Sebenarnya menikah itu ga ribet, tapi proses yang dilalui kadang membuat repot dan menguji kesabaran."



  • Share:

You Might Also Like

0 komentar