Review Film Siap Gan Komedi Tentang Nasionalisme

September 14, 2018

Kalau ga membaca sinopsisnya, mungkin bakalan banyak yang ngira film berjudul Siap Gan ini  bakal bercerita para agan-agan Kaskus, sapaan para pemilik akun di salah satu platform media sosial besar di Indonesia.  Sapaan Gan udah kadung identik sih, ya.  Di film ini, penonton akan mendengar Nina  (Rini Mentari) menyahut Siap Gan setelah diomelin Pelatih Erlangga ketika tidak sengaja menyusup ke asrama pelatihan Paskibra  di Surabaya. Jadi begitu ceritanya film ini diberi judul. CMIIW, ya. 
review film siap gan
sumber foto https://twitter.com/siapganmovie
Ceritanya, Nina yang ndeso merantau ke Surabaya, tinggal dengan teman sekampungnya, Vivi  (Aulia Sarah)  untuk mencari pekerjaan. Sialnya, Nina hanya punya ijazah SMP,  peluang mencari pekerjaan jadi sulit, ditambah lagi bawaannya yang ceroboh. Lengkap sudah penderitaannya. Sampai kemudian, Nina mendengar Vivi diomelin induk semang kontrakannya karena menunggak bayar kontrakan.  Nina yang tidak enak terus-terusan menjadi beban bagi Viva akhinya nekat 'ngebalon' alias jadi WTS mengikuti jejak Vivi.  Sejak semula, Vivi bersikeras ia tidak mempermasalahkan kondisi Nina yang masih numpang hidup. Tapi Nina lebih ngotot sampai akhirnya Vivi menyerah. Nina pun  didandani dan diajari jurus-jurus andalan yang harus dikuasai sebagai seorang WTS. Mulai dari merayu calon klien sampai melarikan diri dari kejaran razia satpol.
review film siap gan
sumber foto: kaskus

Nah, bagian melarikan diri ini yang segera dikuasai dan dipraktekan oleh Nina. Payah menjaring klien, Nina malah terjebak masalah baru ketika menyusup ke asram pelatihan Paskibra. Saat itu ada seorang peserta bernama Putri yang belum hadir, pas banget dengan nama alias Nina ketika berganti identitas jadi seorang WTS.  

Drama persahabatan, rivalitas dan kerasnya latihan yang harus dijalani menjadi bumbu cerita ini. Di awal film, kecuali perkenalan Nina dengan Sakiran (Rudolf Puspa), penjaga asrama terasa berjalan biasa-biasa saja.  Ya wajarlah, namanya juga remaja SMA yang masih mencari identitas diri dan pengakuan. Pengakuan kalau "gue nih yang keren,"  "Gue paskibra pilihan" dari Astrid (Nadya Arina),  teman se-asrama Nina jadi konflik utama yang menonjol sepanjang film berdurasi 90 menit besutannya Ody C Harahap.

Saat Nina terjebak di asrama Paskibra, Vivi yang merasa diamanahi ibunya Nina kelabakan mencari teman satu kampunynya itu, sampai keduanya bertemu dan semakin dekat dan akrab dengan Sakiran.  Gara-gara dibully terus-terusan oleh Astrid, Nina punya motivasi kuat untuk membuktikan dirinya bisa dan mampu bersaing.

Yang menarik di film ini justru kedekatan emosi antara Nina dengan Sakiran.  Sakiran yang terkesan lugu ternyata jadi saksi sejarah perobekan bendera merah putih di hotel Oranye pada tahun 1945. Saat itu Sakiran memang masih sangat belia sekali.  Dengan seting film tahun 2017, bisa diperkirakan kalau usia Sakiran sudah 70an akhir atau awal 80 tahun. Sudah sepuh sekali tapi masih tangkas dan bugar menjadi pelatih bayangan Nina.


Kalau pernah menyaksikan film Seteru besutannya Hanung Bramantyo, film Siap Gan ini punya benang merah yang sama. Sama-sama bercerita tentang cinta tanah air, sama-sama tokoh yang masih usia sma-an. Dengan cast film yang tidak termasuk barisan aktor populer (kecuali Indra Birowo), film yang naskahnya juga ditulis oleh Ody C Harahap berhasil menyentuh saya.  Setidaknya ada dua adegan yang bikin saya meneteskan air mata.  Salah satunya ketika Sakiran bilang sama Nina usianya tidak akan lama lagi. Rasanya nyesek banget ketika harus berpisah dengan  orang yang peduli dan tidak pamrih. Apapun akan kita lakukan untuk mempertahankannya agar tetap bersama.

Dalam satu bagian, Vivi pernah memarahi Nina dan bilang seperti ini:
"Kamu tuh sahabat aku. Aku lebih seneng kamu nyusahin aku terus daripada kamu jadi lonte kayak aku"
Siap Gan berhasil mengajak penonton mengabaikan posisi Vivi dan Nina yang terperangkap dalam dunia asusila dan mengalihkan bagaimana usaha keras mereka menolong Sakiran yang bukan siapa-siapa. Kebaikan kecil yang tampak sepele yang dilakukan Sakiran atau Arini (Mentari De Marelle) teman satu asrama Nina yang selalu membela malah jadi seperti hidayah bagi Vivi dan Nina agar tidak selamanya hidup dalam putara bisnis yang usianya hampir setara dengan peradaban manusia. Makanya, dalam sebuah obrolan, Nina sempat  menanyakan kepastian persahabatannya dengan Arini selepas pelatihan Paskibra kelak. Tidak semua wanita malam merasa nyaman hidup terus-terusan dalam dunianya. 

Ngomong-ngomong soal identitas Nina dan Putri asli yang posisinya diisi olehnya juga diselesaikan dalam film ini. Jadi bukan sekadar kebetulan yang dipaksakan. Jujur saja, sejak Nina menyamar saya terus-terusan penasaran bagaimana kalau nanti dia ketahuan dan kenapa Putri yang asli tidak muncul di film ini? Saya pikir soal ini bakal jadi celah minusnya film ini.  Kalau ngambil pepatah bule, ini semacam Blessing in Disguised. Berkah dalam kesialan setelah Nina jatuh bangun mencari pekerjaan dan nyaris apes tertangkap razia satpol PP.  

Dari sisi akting, yang paling menarik perhatian saya adalah aktingnya Aulia Sarah. Terasa begitu natural dan mengalir. Dandan ala WTS atau polos seperti kebanyakan wanita lainnya pun tetep cantik. Yang rada mengganggu  adalah sebagian  dialog, terutama ketika interaksi antara Nina dan Vivi dibawakan dengan menggunakan bahasa Jawa.  Bukan karena bahasanya. Sebagian sudah familiar, tapi  sebagian lain   kosakata lumayan bikin saya  rada roaming, karena tidak ada teks terjemahan yang muncul di layar.

Sayangnya, film yang beberapa bagiannya juga mengingatkan saya dengan adegan-adegan di film Pretty Woman (pas Nina berkostum jadi WTS) ini terlambat masuk bioskop. Lewat satu bulan dari momen idealnya yaitu bulan Agustus. Setidaknya para alumni Paskibra mulai dari tingkat sekolah sampai tingkat nasional akan lebih merasa  terkenang dibuatnya. Di luar itu, memang masih PR banget bagi para sineas Indonesia untuk meyakinkan  kalau film tipikal berlatar sejarah atau heroik nasionalisme seperti ini ga kalah menarik dan layak diapresiasi.




  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. Spertinya ut 13 tahun ke atas yah. Tadinya mau ngajak anak2 nonton :)

    BalasHapus