Something In Between: Terhubung Lewat Mimpi dan Doa

Oktober 10, 2018

Kalau ditanya siapa aktor muda Indonesia yang punya basis massa yang  banyak dan bisa bikin fansnya jerit-jerit saban kali ketemu, jawaban yang paling gampang buat saya satu aja. Jefri Nichol. Ini saya alamin banget setelah ikut salah satu preskon film Surat Cinta Untuk Starla  di BIP . Setelah acara preskon kala itu, Dedek  (((dedek))) Nichol menyapa para fansnya di  area food court yang lokasinya memang deketan dengan studio XXI Empire.  Telinga saya -  lewat situ karena mau solat di musala yang masih satu area. terasa pekak, nyaris  budek.


Ga nonton?
Nonton, lah. Cuma dengan histeria massa kayak gitu, saya mundur aja, milih nonton di waktu lain yang lebih aman aja. Beberapa hari yang lalu, saya kembali nonton lagi filmny Jefri Nihcol yang terbaru. Judulnya Something In Between.  

Nonton film bukan karena pesonanya dia. Seriusan. Tapi penasaran dengan genre cerita yang diangkat. Bukan cuma cerita remaja yang kesannya menye-menye. Tapi ada sentuhan fantasy dalam naskah yang ditulis oleh Titien Wattimena dan Novia Faizal.  

Ceritanya Jefri Nichol memerankan Abi yang terusik mimpi-mimpi yang terus mendatanginya setiap malam. Ga tahan karena merasa terganggu, Abi memutuskan untuk kembali ke Indonesia, ditambah waktu itu dia sedang liburan.

Berbekal potongan informasi yang didapat dari mimpi (seriusan dari mimpi) dan sketsa foto dan wajah yang tidak sempurna, secara perlahan Abi mencoba mengumpulkan kepingan demi kepingan untuk menjawab teka-teki dari mimpi-mimpinya.

Nah, part yang paling menarik dan menghabiskan lebih dari separuh film yang durasinya 100 menit ini adalah ketika film berjalan mundur menceritakan kisah cinta dua anak SMA, Gema dan Maya. Di sini, Jefri Nichol main lagi sebagai Gema dengan tampang anak SMA yang lebih unyu. Sementara itu  Amanda Rawles jadi lawan mainnya Nichol dan memerankan Maya.

Dan seperti yang diceritakan oleh sinopsis di situs bioskop XXI dan CGV,  penonton selanjutnya diajak nonton gimana usahanya Gema mendekati Maya  yang notabene anak kelas unggulan. Sementara Gema ga ada apa-apanya. 

Tapi dasar yang namanya cinta, Gema melakukan segala usaha. Bukan cuma bisa deketin Maya lebih dari sekadar gebetan. Dari cuma ngintip-ngintip di kelas, bikin proposal bahkan sampai gerilya mendekati kepala sekolah (Slamet Rahardjo) pun dilkakukan.  Warbiasak. That's the power of love! Cinta bukan cuma bikin seseorang jadi tampak konyol tapi juga punya energi berlebih yang di mata orang lain terlihat nekat, gila.

By the way, cara film ini bertutur tentang sosok kepala sekolah juga menarik perhatian saya, lho. Jauh dari imej yang dingin,  atau galak. Pak Bagus yang diperankan Slamet Rahardjo itu tipikal kepala sekolah yang santai, tapi berwibawa. Tidak ada jarak yang kaku antara dia dengan murid. Di sisi lain, Gema yang punya motif tersendiri untuk pindah kelas  unggulan dan ebrgabung dengan Maya juga punya etika  yang terdidik,walau masih bandel dan gokil.

Ada banyak dialog-dialog yang menarik di film ini. Beberapa kali saya dengar desahan tersenyum dari penonton lain yang rata-rata usia anak sma atau kuliahan. Hahaha... biarin deh saya tersesat, nyempil di antara mereka. I do enjoy the movie, anyway. Bukan karena faktor siapa yang maen, tapi penggarapan naskah dan pesan tersiratnya nampol.

Jadi seperti ini beberapa quotesnya:

Biarkan hatimu terbuka untuk apapun, mana yang tinggal, mana yang lepas

Atau ini yang sering diulang dan jadi nyawanya film sejak awal sampai akhir:

Aku maunya sama kamu, selamanyaSampai maut memisahkan kitaBahkan maut ga bisa memisahkan kita


Tadi saya bilang kalau film ini punya ara menarik menyampaikan pesan kan, ya?
Nah, seperti biasanya cerita anal-anak sma, ada yang terbuka sama ortu, ada yang sembunyi-sembunyi karena belum waktunya pacaran. *kemudian keluar lagunya Chrisye*

Maya mengalami dua-duanya. Ada ibunya (Djenar Maesa Ayu) yang jadi sahabat dan pendengar setia waktu gadis berponi ini bercerita bagaimana  kelakuan Gema. Bahkan ibunya ini ngasih masukan sama Maya kalau cowok aneh ga selalu nyebelin. 

Sementara ayahnya Maya (Surya Saputra) paling keras soal satu ini. Di akhir film, saya punya kesimpulan berbeda. Ekspresi sayang ayah dan ibu itu punya cara penyampaian yang berbeda. Ibu (dalam kasus Maya di sini) hanya ingin membuat putri semata wayangnya bahagia. Apapun yang bikin Maya bahagia ya dijabanin, didukung.

Gimana sama Ayahnya Maya?
Ga selalu ayah yang keras dan susah banget berkompromi itu  ga asik.  Saya pikir ya, Ayahnya Maya  itu bukan hanya menginginkan yang terbaik buat Maya dalam urusan prestasi. Ada sisi lain di mana ia belum siap menerima kenyataan putri kecilnya itu bakal segera berubah dari gadis remaja jadi seorang wanita dewasa. Ada saatnya dia harus melepas putrinya, menjalani kehidupan baru. Bagian yang bikin baper buat saya justru saat keadaan bebalik 180 derajat. Malah ayahnya Maya ini yang paling sabar dibanding ibunya.  Part ini yang bikin mata saya berkaca-kaca.

Di tengah kebingungan saya menghitung usia Abi dan tokoh-tokoh lainnya serta  jarak tahun yang membentang antara ia dan Gema, akhirnya semua teka-teki mimpinya terjawab. Saya ga tau harus bilang gimana film ini berakhir. Manis, atau nonjok dan bikin baper. Ditambah lagi OST  Firefly dan Tlah Mencoba yang dinyanyikan  Rossa di antara film produksi kolaborasi Screenplay Films dan Legacy Picture pas banget. Ngena. Terlepas apapun penilaian  kita setelah menonton  bagaimana Gema dan Abi terhubung, film ini juga ngasih pesan bagaimaa semesta merespon doa atau keinginan kita. 

Kalau di film ini Gema bilang Cinta itu harus diperjuangkan, saya mau bilang rasa penasaran harus dituntaskan. Percayalah, kalian ga akan nyesel nonton film ini. Makanya, 7.7 dari 10 bintang saya sematkan buat film besutannya Asep Kusdinar ini. Selain chemistry yang semakin kuat antara Jefri Nichol dan Amanda Rawles, saya nungguin akting mereka yang semakin moncer.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar