Pernah lihat kan, kuis di tv yang hadiahnya gila-gilaan? Yang kalau kita menang jadi orang kaya baru. Semisal kuis Who wants to be millioner yang pernah ngehive di tv beberapa waktu lalu.
Pertanyaannya, emang gampang jadi orang kaya? Tidak semudah itu Ferguso!
Lewat kuis yang sifatnya untung-untungan pun perlu usaha gigih. Kita harus cari tahu dan mengumpulkan banyak-banyak ensiklopedi atau trivia trivia-an tentang pengetahuan populer. Bahkan kadang pertanyaan yang tampak receh dan cetek bisa jadi jebakan. Nominal yang susah payah dikumpulkan tiba-tiba menguap, seperti deretan strip di layar yang sudah naik beberapa garis tiba-tiba meluncur drastis ke titik rendah.Nominal besar yang sudah terkumpul tiba-tiba turun lagi ke titik aman yang jauh lebih kecil.
Ada juga orang yang miskin tapi gayanya sok kaya. Banyak gaya. Untuk pembawaan seperti ini, plesetan akronim dari BPJS jadi Biaya paspasan Jiwa Sosialita pas untuk menggambarkan gaya hidup dari Tika, Duta dan Dodi yang ketiganya masing-masing dimainkan oleh Raline Shah, Derby Romero dan Fatih Unru.
Meski hidupnya pas-pasan, apa yang dilakukan oleh ketiga anak-anaknya dari bapak dan ibu (Lukman Sardi dan Cut Mini Theo) memang seperti ini. Semisal menyusup ke acara resepsi nikahan padahal ga diundang hanya karena ingin mencicipi hidangan mewah.
Kehidupan mereka berubah seratus delapan puluh derajat sepeninggal bapak. Tiba-tiba mereka dikunjungi pengacara yang memberitahukan kalau sebenarnya bapak meninggalkan warisan yang banyak. Ga nanggung, nominalnya sekian milyar, ribuan juta. Dengan gaji UMR yang kita terima setiap bulan pun rasanya tidak akan terkumpul sampai meninggal kecuali ada keajaiban.
Culture shock pun terjadi. Kalau soal gaya terutama Tika dan Duta jangan ditanya. Mereka cepat sekali beradaptasi dengan kehidupan mewah. Kalau kita ada di posisi mereka, mungkin juga tidak sadar sebenarnya siapa teman sejati saat kita punya segalnya senang. Tapi yaaa, namanya juga lagi euforia, kan?
Tika abai dengan sinyal dari teman-temannya kesal. Dia juga ga 'ngeh' kalau Banyu (Refal Hadi), cowok yang ditaksirnya malah ga nyaman dengan Tika yang baru. Sementara Duta juga terbuai mendapati dirinya kalau mimpi-mimpinya ada diujung jari. Tinggal menjentikan jari, dan abrakadabra! Seperti jajan permen atau cilok. Gampang sekali!
Sementara itu, walau norak dan royal, Ibu lebih suka menghabiskan uang kemudian menikmati popularitas dengan caranya sendiri. Bisa dibilang mimpi alam sadar kita akan menjelma saat jalan untuk mewujudkannya terbuka lebar. Centilnya ibu saat bermesraan dengan bapak, atau norak kelakuan dan penampilan barunya sebagai orang kaya sukses memecahkan tawa.
Pesan bapak soal uang jadi benang merah di film ini. Uang sedikit itu cukup. Uang banyak ga akan cukup. Ini nampol dan rasanya seperti menampar kita. Ga percaya?
Coba inget ga, kapan terakhir kali dapat uang kaget. Dari hadiah, bonus, atau apapun lebihan lainnya di luar penghasilan yang biasanya kita dapatkan setiap bulannya? Yakin deh, sedikit dari kita yang mengalokasikannya lebih dari setengah untuk disimpan. Iya, kan? Yang ga butuh jadi penting. Yang prioritas dan bukan jadi samar. Ditambah lagi kalau memang sebelum mendadak kaya gaya hidupnya sudah sok kaya.
Jadi, jangan heran kalau selama nonton film ini kita ga melihat betapa susah dan perihnya kehidupan Tika, Duta dan Dodi sebelumnya.Tika tidak terlihat seperti Upik abu yang dandanannya lusuh Atau susah payah nyari biaya kuliah meski dibully teman-temannya seperti tokoh Sancai dalam serial Meteor Garden misalnya.
"Orang Kaya Baru" kolaborasinya Screenplay Films dan Legacy Pictures tidak mengijinkan kita sebagai penonton untuk bersedih, bahkan saat Tika mendapati bapak meninggal atau bahkan ketika situasi yang dialami kembali berubah 180 derajat.
Seperti lingkaran jarum jam yang beputar 360 derajat. Tika terlihat 'woles' saat kemewahannya yang didapatkan kemudian menguap. Secuek dirinya saat merespon sinyal dari Banyu atau sedatar reaksinya menanggapi Fatih Unru yang berperan sebagai si bungsu Dodi yang merasa kesepian justru ketika kehidupannya berubah jadi lebih baik.
Seperti lingkaran jarum jam yang beputar 360 derajat. Tika terlihat 'woles' saat kemewahannya yang didapatkan kemudian menguap. Secuek dirinya saat merespon sinyal dari Banyu atau sedatar reaksinya menanggapi Fatih Unru yang berperan sebagai si bungsu Dodi yang merasa kesepian justru ketika kehidupannya berubah jadi lebih baik.
![]() |
sumber: republika |
Sepertinya mereka lupa dengan hukum Archimedes:
"Semakin banyak gaya, semakin banyak tekanan yang diterima."
Masalah malah makin datang bertubi-tubi setelah semua kemewahan dicicipi. Sepanjang 96 menit film arahannya Ody C Harahap yang naskahnya ditulis oleh Joko Anwar kita malah disuguhi kelucuan betapa noraknya (mungkin kita) saat mencoba beradaptasi jadi orang kaya entah itu ada di posisi ibu atau Dodi yang kampungan.
Adakalanya kita pernah merasakan situasi yang pahit atau menyebalkan. Kenapa harus begini. Kalau kemudian kita tertawa untuk hal yang sebenarnya bikin ngenes seperti yang dialami keluarga ini. Tenang saja, itu artinya kita masih normal dan jauh beberapa strip dari ambang stress. Iya, kan?
Jadi betul ya seperti yang dibilang bapak soal uang. Mari tengok lagi uang kita sudah dihabiskan buat apa saja sih, selama ini? Yakin sudah cukup? Beneran, sudah siap jadi orang kaya dengan segala konsekuensinya?