Ngomongin kopi sebagai salah satu bagian dari trend life style ga bisa lepas dari sejarah masa lalunya yang lebih pahit dari rasa yang tertinggal di lidah. Iya, kopi asli yang diseduh tanpa gula, kopi sachet atau sajian lainnya yang sudah ditambahkan ini itu.
Kopi yang jadi primadona dunia dan ga bisa lepas dari identitas nongkrong atau berkkumpul untuk mengobrol meninggalkan jejak kelam bagi sejarah Indonesia, di kala tanam paksa kopi pernah berlaku di Nusantara, khususnya Parahyangan
Cerita tentang sejarah kopi pada masa lalu di Indonesia terutama di Jawa Barat diangkat oleh teman saya, Evi Sri Rejeki dalam novel teranyarnya, Babad Kopi Parahyangan.
Dari Minangkabau ke Parahyangan
Tokoh utama dari Babad Kopi Parahyangan adalah seorang pemuda dari Minangkabau bernama Karim yang mengembara ke pulau Jawa setelah mendengar ceritanya seorang Pelaut mengenai kopi di pulau Jawa.
Ceracau si Pelaut soal kopi di Parahyangan yang rasanya lebih enak daripada kopi yang disajikan di kampung halaman Karim, Darek membuat ia begitu bergairah untuk datang ke Parahayangan. Rasanya yang manis, asam dan gurrih serta sedikit pahit lebih menggoda bagi Karim ketimbang ngerinya tanam paksa yang diberlakukan Daendels waktu itu.
"Aku pernah ikut berlayar bersama Daendels dan Raffles. Tahu kan dari negara mana mereka?" halaman 12-13
Pertanyaan Si Pelaut pada Karim seakan menohok saya juga. Walau pernah belajar sejarah dulu waktu sma, masih saja tetep tertukar cerita mengenai mereka.
"Payah betul kau! Daendels itu dari Perancis, Raffles dari Inggris. Ya sebenarnya Daendels itu orang Belanda, cuma dia kerja buat Perancis" - halaman 13
Penindasan oleh Bangsa Sendiri
Baik, kita sisihkan dulu cerita soal Daendels dan sangkut pautnya dengan Perancis itu.
Seperti yang pernah kita tahu, nama Daendels tidak bisa lepas dari tanam paksa yang pernah terjadi dalam sejarah Indonesia. Jalan Pos yang digagas oleh Daendels pada waktu membuka sejarah kelam petani di Parahyangan karena dipaksa harus menanam kopi, mengabaikan ladang dan sawah sendiri demi memenuhi birahi Belanda yang ingin menguasa perdagangan dunia. Pada waktu itu, mereka terbius oleh nikmatnya kopi dari rasa dan uang yang dihasilkan lewat ekspor kopi dari Indonesia, terutama yang ditanam di pulau Jawa.
Tiba di Batavia, Karim sendirian melanjutkan perjalanan menuju Parahayangan ditemani oleh Ujang (seorang kusir sahabatnya Si Pelaut) dan bertemu denga Euis seorang mojang sunda yang geulis dengan pesona khas layaknya seorang Mojang Parahyangan. Dari Euis ini juga Karim mendapat akses untuk bekerja di perkebunan kopi dan menemukan penindasan yang dialami oleh petani kopi.
Orangtua kita jaman dulu memanfaatkan 'jasa' careuh bulan atau luwak untuk mencuri rasa kopi yang tidak bisa dinikmati sembarang orang. Meski harus mengais-ngais kotoran, tidak lantas mereka leluasa menikmatinya. Di sisi lain, walau para meneer ogah menjamah kotoran careuh, tidak lantas pribumi terutama terutama masyakarakat strata rendah bisa seenaknya menikmati kopi. Meminumnya adalah pelanggaran yang harus dihukum berat.
Yang membuat perih hati bagi Karim, penindasan yang dialami oleh para petani justru lebih nyata dilakukan oleh para mandor dan para kaum priyayi dari bangsa sendiri. Kompeni lewat para kontrolier malah terkesan cuci tangan setiap terjadi keributan dan kerusuhan. Masa bodoh dengan mereka, selama produksi kopi tetap lancar.
Seorang Mandor bernama Satria mempunyai hubungan khusus dengan Euis yang meninggalkan kenangan pahit bagi keduanya, melibatkan ayah Euis seorang tenaga kesehatan - Mantri Darma, juga seorang petani cacah - Kang Asep, yang bekerja di perkebunan kopi itu. Dendam kesumat yang berpilin di antara mereka dibalut dalam konflik yang apik.
Latar Budaya Sunda - Minang
Dialog antara tokoh baik dalam bahasa Minang atau Sunda dikemas Evi dengan dialog yang ringan namun terasa nyastra. Dibanding novel Evi lainnya yang pernah saya baca (CineUs dan Twiries), Babad Kopi Parahyangan ini tampil berbeda, lebih dewasa dari sebelumnya.
"Apa mau kau cari Awak?" ucap Karim, suaranya ketus. Dari sorot matanya meruak bara amarah, Datang dari mana kesumat itu? Tentu Euislah yang menyiram api dalam sekam. Apakah gadis itu mempergunakan Karim demi membalaskan dendamnya? Kang Asep hanya dapat menduga-duga - halaman 201
Wow, saya dibuat amaze banget dengan penceritaan Evi. Rasanya seperti membaca novel-novel semacam angkatan Balai Pustaka yang kuat dengan kosa kata Melayu. Kalau pernah membaca novel Bumi Manusia, kurang lebih seperti itu deretan kosa kata yang bercerita.
Babad Kopi Parahyangan memotret kehidupan sosial masyarakat Sunda dan Minang pada tahun 1870an dengan tokoh utamanya Karim dan Euis dan menjadikan kopi sebagai benang merah yang mengikat konflik di sepanjang cerita.
Karakteristik orang Minang yang melekat pada Karim seperti tipikal Pengembara, berbahasa melayu yang puitis dan agamis (walau Karim pernah 'tergelincir', kelak masa lalunya ini berpengaruh bagaimana ia memperlakukan Euis). Sementara karakteristik orang Sunda akan kita temukan pada sosok Euis dan kang Asep yang berpengaruh kuat pada Karim.
"Orang Sunda itu tidak pemalas, Rim. Tidak perlu dipaksa-paksa buat kerja. Kami hanya mengambil sesuatu dari alam secukupnya. Dan prinsip itu diputarbalikkan sedemikian rupa oleh Kompeni sehingga orang-orang memercayainya, bahkan orang Sundanya Sendiri"
Narasi dari Kang Asep di atas seakan mewakili bantahan dari orang Sunda yang sudah kadung dicap malas. Saya jadi ingat cerita teman yang dinasihati ibunya jangan mau nikah sama orang Sunda dengan alasan yang sama, pemalas.
Sifat orang Sunda yang welas asih dan setia seperti yang digambarkan pada karakter Kang Asep dan teman-temannya di perkebunan seakan jadi cara Evi membantah cap negatif yang identik dengan orang Sunda. Meski pun di sisi lain ada Satria yang culas dan tidak segan mengorbankan teman dan keluarga sendiri demi kepentingannya sendiri.
Tapi seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, motif dari Satria dilatari karena dendam dan sakit hatinya di masa lalu. Sedahsyat itu kekuatan kesumat, bisa hinggap pada siapa saja, bahkan kalau pun Satria bukan seorang pemuda Sunda.
Mutiara Hitam dari Parahyangan
Pada masa tanam paksa dulu, kopi dari nusantara adalah primadona di pasar rempah-rempah dunia. Lagu Manhatan Transfer yang berjudul Java Jive adalah bukti kopi dari Jawa pernah jadi primadona dunia, terutama di Eropa jauh hari sebelum perang dunia kesatu meletus. Silakan cari tau lirik lagunya di youtube, ya.
sumber: historia.id |
Pahitnya rasa kopi masih kalah pahit dari penderitaan orang Sunda pada masa itu. Bukan saja dipaksa harus menggarap perkebunan kopi tapi juga harus mengantarkan sendiri kopi hasil panen lewat jalur khusus ke Bandung (beratnya muatan kopi yang ditarik dengan pedati bisa merusak jalan), tapi juga mengorbankan harta dan nyawa.
Satu pikul kopi tidak lebih dihargai dari 6,5 gulden. FYI, 1 pikul setara dengan 60 kg. Jadi bisa dibayangin kalau pun dikonversikan dengan kurs sekarang, ga lebih dari 65 ribu rpuiah untuk 60 kg kopi. Ini adalah harga kopi yang gila, ga manusiawi.
Konflik Sosial
Dalam satu waktu, Karim mengenal Raden Arya Kusumah Jaya, bupati pada masa itu yang mengenalkan Karim pada Max Havelaar, tokoh novel Multatuli yang dditulis oleh Douwes Dekker, seorang Belanda yang punya keprihatinan dan mengkritik pemeritahnya melalui novelnya itu.
Struktur pemerintahan di Parahyangan pada masa itu sesungguhnya cuma akal-akalan Belanda untuk memperalat dan menciptakan peluang konflik perpecahan yang bisa terjadi. Raden Arya Kusumah terbelit intrik kepentingan dan batinnya terkait tanam paksa kopi, belum lagi kecemburuan pihak lain karena merasa iri dengan posisi dan kedudukan yang dimilikinya.
Transisi Antar Bab
Tapi jangan khawatir, novel ini bukan jenis novel yang berat untuk dibaca, walau terkesan cukup rumit. Evi berhasil menyajikan cerita lewat penuturan yang lincah. Dari satu bab ke bab lain akan menggelitik kita untuk terus membaca berkat fragmen mendebarkan yang selalu muncul di akhir bab. Ini sih udah kayak candu seperti kopi, membuat kita ingin terus menyesap ceritanya, sepahit apapun itu.
Bagian cerita antara Karim, Raden Arya dan Philip Vitalis (sahabat Raden Arya) membutuhkan kesabaran lebih eksta buat saya untuk tidak melewatkannya. Alur cerita agak datar namun membuat saya lebih paham pemikiran Douwes Dekker lewat novel Multatuli dan reaksi petinggi Belanda pada masa itu.
Membaca novel Babad Kopi Parahayangan juga bercerita kearifan lokal, bagaimana hubungan orang tua kita pada masa lalu dengan para leluhurnya. Euis dengan sesajen yang dibuatnya, dan Karim dengan silek harimaunya.
Babad Kopi Parhayangan sukses membuat saya senang terhibur dengan alur cerita dan diksi yang digunakan Evi dalam bertutur, meski masih dibuat penasaran antara hubungan Kenikir, Khapi dan para leluhurnya. Ada celah masa di antara mereka dengan tokoh lainnya yang membuat kita harus sabar meraba-raba ada apa yang terjadi.
Dalam acara peluncuran bukunya beberapa waktu lalu, Evi sempat bercerita kalau novel yang diterbitkan oleh Margin kiri ini direncanakan akan jadi tetralogi alias 4 buku. Ga sabar saya nunggu lanjutannya. Malah saya memambayangkan satu waktu akan diangkat jadi film kolosal, lho.
Sekeren itu ceritanya, sampai saya berharap ada sineas yang mau meliriknya untuk diangkat ke layar lebar. Huehehe... beneran, nih novel keren banget. Recomended. Bukan karena saya temennya Evi, tapi emang ceritanya beda dan berboobot.
Sekeren itu ceritanya, sampai saya berharap ada sineas yang mau meliriknya untuk diangkat ke layar lebar. Huehehe... beneran, nih novel keren banget. Recomended. Bukan karena saya temennya Evi, tapi emang ceritanya beda dan berboobot.