Titik Nol, Tentang Rumah dan Perjalanan

Apa sih yang terbayang kalau ngomongin India?

Selalu saja yang nyangkut duluan itu tentang inspektur Vijay yang selalu datang terlambat ke tempat kejadia perkara,   nyanyi-nyanyi yang tipe suaranya serupa suaranya Oma Elia Kadam dengan koreografi berjamaah yang gampang kepancing kalau ada hujan, lapangan atau pohon. Pas adegan jogetnya itu, selalu saja tiba-tiba ada serombongan orang yang entah dari mana datangny, ujug-ujug nimbrung ikutan nyanyi. Misteri yang belum terpecahkan buatku, Ada yang bisa kasih kasih penjelasan, ga?

Saking banyaknya adegan joget, sekian taun aku tuh ogah nonton India yang dalam bayangan stereotipnya kayak gitu.   Nangis, joget, inspektur polisi yang rese dan semacamnya. Dulu, sih. Sekarang  ga anti film India kok. By the way, udah pernah nonton film keren Padmavati, belum?  Coba baca tulisanku tentang filmnya di:

https://www.resensiefi.my.id/2018/01/review-film-padmaavat-ratu-cantik-dari.html


Balik lagi ke India, ya.

Lupa aku tuh gimana bisa tau tentang buku Titik Nol yang ditulis Agustinus Wibowo. Pendeknya, dari beberapa repost yang wara-wiri di facebook bikin aku kepincut untuk membacanya. There! Akhirnya nemu juga buku itu di Gramedia. Wiiiih mayan tebel ternyata. Bisa dijadiin bantal tidur malah hahaha.

Terus dibaca?
Iya, dong. Cuma ga segitunya tamat dalam waktu sesingkat-singkatnya. Perlu waktu lama buat mengkhatamkannya. Sekitar 3 tahunan mah adalah hahaha. Lama banget, kan?

Penilaian pertama tentang India dari buku Titik Nol yang aku baca itu, mereka adalah orang-orang yang jorok, (kayak bau pesing di mana-mana atau lingkungan yang kumuh),  mata duitan dan  'beukian' kata orang sunda mah alias libidonya yang tinggi. Dalam satu part yang aku baca Agustinus Wibowo  pernah digrepe-grepein seorang laki-laki India (kalau ga salah pemilik penginapan), terus pernah mergokin orang India yang melakukan masturbasi dalam kereta, yang mana  cairan air maninya muncrat ke mana-mana.  Hueks..... Jijay, kan? Enggak banget pokoknya, mah. 

Wait.
Dalam kenyataannya memang banyak yang menemukan fenomena kayak gitu. At least dari cerita teman-teman yang pernah maen ke sana. Meski begitu, dalam kenyataannya ya pasti ada sisi baiknya, lah. Segimana nyebelinnya India,  ada aja kok sisi eksotismenya yang entah gimana bisa menghipnotis turisnya. Contoh gampangnya ya itu industri film Bollywoodnya yang sempat fenomenal di Indonesia (terutama tahun 90an gitu, MNC TV yang dulu namanya TPI saban hari muterin film India, sampe bosen!).

Bukan Hanya Tentang India

Sebenarnya Titik Nol ga melulu bercerita tentang India saja, sih. Walau porsi halamannya emang banyak banget.  India cuma sebagian tujuan Ming (panggilan Agustinus Wibowo) untuk mengejar mimpinya menjejak ke banyak tempat di dunia. ia pernah kuliah ke Cina, lalu bercita-cita jalan ke Afrika lewat jalan darat. Sempat terdampar di Tibet, terombang ambing di Kashmir (perbatasan India-Pakistan yang sejak tahun 1947  jadi wilayah konflik perebutan kekuasan), dan menemukan romantisme keramahan orang-orang Afghanistan,  yang negerinya acak-acakan diusik perang saudara yang ga beres-beres. Pendek kata, Agustinus Wibowo jatuh cinta sama kawasan Asia Tengah ini.

sumber: everylifecounts.ndtv.com


Eksotisme vs Modernisme

Dulu aku pikir traveller itu cuma ngabisin duit keliling dunia. Menikmati kulinernya, mengabadikan pesonanya dengan foto-foto yang eksotis dan  terlihat keren.  Sisi lain dari traveller yang berkebalikan ada Backpacker yang jalan-jalan juga dengan modal irit, makan dan  tidur di penginapan yang murah dan hal lainnya yang serba sederhana. Demi menyelamatkan budget untuk bertahan hidup, memenuhi list itenerary yang ingin dipenuhi.

Semakin lama semakin membaca buku ini, aku jadi mikir kalau menjelajah dunia bukan perkara segimana kerennya seseorang sudah mengunjungi banyak negara. Ya keren tiap orang bisa beda, ya. Anyway, let me finished my review, please :) 

Sempat tertunda sekitar dua tahunan (iya beneran gitu) aku tergoda untuk menamatkan buku ini.. Ga tau kenapa, pokoknya harus tamat ini. Dan ternyata lebih dari sepertiga buku ini bisa kuselesaikan dalam waku kurang dari seminggu. Jadi sebenarnya kalau niat, aku tuh bisa kok beresin baca buku ini dalam sebulan. Duh nyesel jadinya kenapa ga dari dulu beres bacanya, ya?

Pernah terpesona ga sama tulisan, foto, atau  liputan lainnya tentang belahan dunia yang masih 'perawan'. Terus pada bangga-banggain. Nih kawasan ini masih alami, belum tersentuh perubahan zaman yang modern. Masih menyisakan keindahan dunia  yang menguarkan aroma alam yang susah dijamah, diciumi aromanya.
sumber: https://www.himalayaheart.com

Terus aku jadi berasa nyesek gimana jatuh bangunnya penduduk desa di Nepal yang harus naik turun gunung membawakan perbekalan turis biar bisa makan enak di puncak gunung. Atau jalanan di Pakistan yang terjal, kelokan yang curam yang diintip batu sebesar rumah yang kapan saja bisa menggelinding menghantam mobil lewat, air yang susah payah dicari pun baunya ga enak, atau  untuk mandi air hangat pun harus mengumpulkan kotoran hewan agar bisa menjerangnya.
sumber foto: http://agustinus.photo/28085/on-the-edge/

Hiks, bukan kah di sisi lain kita sering merasa sedih kalau di negeri ini masih ada kawasan yang jalanannya belum beraspal? Kampung-kampung yang masih suka dikepung banjir, kebakaran hutan dan peristiwa alam lainnya yang menyulut sumpah serapah mengapa pembangunan infastruktur belum merata? Ya jauh banget ya kalau mau bandingin dengan keindahan kota klasik macam Venesia di Italia misalnya.

Baik kita lanjutin lagi. Belum bosen bacanya, kan?

Mereka yang Berpengaruh

Jujur aja, di awal-awal baca buku, bagian paragraf pendek yang bercerita tentang mama-nya bikin aku merasa 'apaan sih', di mana nyambungnya sama cerita perjalanannya? Di paragraf lain, aku juga menemukan Lam Li, Backpacker  asal Malaysia yang petuah ringannya begitu nampol. Bayangin aja Kak Rossnya Upin dan Upin lagi ngobrol santai  sambil nasihatin gitu.
Lam Li, sang sahabat. Sumber : agustinus wibowo.com

Semakin ke ujung cerita tulisan tentang Mama  bukan cuma nyambung aja.  Mama punya peran besar membentuk karakter Agustinus jadi seperti sekarang ini.  Keikhlasannya melepas  Agustinus yang pergi meninggalkan rumah untuk kuliah di Cina dan lanjut dengan perjalanan keliling dunianya itu, bagaimana kesabarannya menghadapi konflik dalam keluarga dan tegarnya menahan penyakit kanker bisa bikin meleleh.

Peribahasa Kasih Ibu Sepanjang Jalan beneran ngena. Sejauh apapun ia pergi, kasih sayang Mamanya selalu hadir di mana saja dia berada,

Bertahan Hidup

Misteri yang bikin aku kepo sampai saat ini adalah bagaimana Agustinus menyimpan uangnya selama berkeliling. Gimana caranya mengonversikan bekalnya dengan mata uang setempat. Apa dia bawa semua uang dolarnya terus nukerin di money changer sekitar? Kalau kehabisan mata uang lokal bayarnya gimana? Bayar langsung pake dolar? Hahaha.... kepo yang ga penting sih ini.

Buat orang yang suka lapar mata kayak aku kira-kira bakal kuat ga diajak traveling kayak gini? Bekal uang tunai yang ku bawa buat jalan-jalan ke Malaysia selama 4 hari kemarin mungkin bisa lebih lama awetnya kalau cara jalannya kayak beliau. Sanggup, ga? Entah lah, kayaknya sih enggak *tutup muka* Itu pun udah lumayan bikin meringis, sih. Akhirnya aku memilih untuk enggak 'nge-break down' habis buat apa saja dan berapa banyak secara detil.

Nah, walau  bener-bener me-manage' bekalnya, Agustinus juga sempat kehabisan uang, dirampok, bahkan nyaris diitipu orang India. By the way, kenapa  sih orang India identik dengan karakter tricky gini, ya? Waktu jalan-jalan di Malaysia, aku sempat diingatkan jangan pake taksi lokal yang sopirnya orang India.

Akhirnya waktu di sana emang sempat dapat drivel taksol yang dari foto dan namanya aja udah jelas Indianya. Cuma waktu itu mikir gini: "Kan pesen pake aplikasi Grab. Ya masa sih mau diperas gitu?"  Tapi ga kesampaian ngalamin disopirin orang India karena dicancel sepihak huhuhu.... Yang beginian bukan cuma terjadi di Indonesia aja, lho. Ditolak driver aplikasi tanpa penjelasan. Gondok tapi ya bersyukur karena ga usah was-was.

O, ya di India ini Agustinus sempat sakit kuning dan ngalamin ribetnya nyari rumah sakit buat berobat. Administrasi yang ribet, mengingatkan resenya public service officer ala film-filmnya gitu lho. But anyway Agustinus juga bertemu seorang dokter yang jadi sahabat penanya. Selama sakit ini juga banyak insight yang didapatkan saat ngobrol sama pasien atau penduduk India lainnya. 


Belajar Toleransi dari Konflik

Bukan cuma soal kesejahteraan yang rumit atau krisis pangan yang membekap penduduk kasta terendah di India. Cerita-ceritanya waktu di Tibet, Nepal, Pakistan sampai Afghanistan membuka sudut pandang kita bagaimana memandang konflik. Keluarga Agustinus yang beretnis Cina pun sempat mengalami horornya tragedi Mei 1998 dan berpengaruh besar pada Mamanya.  Nrimonya orang-orang India dengan nasibnya yang sudah 'dituliskan' begitu terus,  jujurnya orang-orang Pakistan dan bagaimana keramahan orang Afghanistan yang sudah terbiasa dengan ledakan bom dalam kesehariannya juga bikin aku yakin aja, buku ini sayang banget kalau tidak dikhatamkan.

Ngomong-ngomong soal Taliban  yang pernah jadi pemerintah di Afghanistan sana, apa ketika mereka turun terus semua lini kehidupan jadi berubah 180 derajat? Enggak ternyata. Begitu juga konflik lainnya yang masih meringkus kawasan Asia Tengah seperti India dan Pakistan.  Awalnya yang ribut para petingginya, terus ngegusur rakyatnya. Tetep sih yang paling merana mah mereka yang ada di akar rumput.  
sumber foto: http://agustinus.photo/28428/welcome-to-the-wakhan-corridor/
Agustinus juga bukan cuma diaungerahi kecerdasan bahasanya yang membuat dirinya lebih mudah cair bergaul.  Keluwesannya bertoleransi perbedaan pandangan termasuk soal agama bikin salut.  Mungkin itu juga yang membuatnya mudah diterima oleh banyak orang dengan berbagai latar negara, etnis sampai agama.  Agustinus seperti menemukan rumahnya di mana saja sebelum kembali ke rumah sebetulnya di tanah air.

Ngomong-ngomong soal konflik, Agustinus punya kamera yang punya nilai paling penting. Bukan cuma cuplikan foto-foto kerennya saja yang terselip di halaman-halaman bukunya. Sempat dirampas, kameranya ini jadi pendamping Agustinus untuk bertahan di Afghanistan dan jadi jalan 'hidayah' untuk kembali ke tanah air, berkumpul lagi dengan keluarga dan menuntaskan kerinduannya.

Nah, lho. Aku sudah punya kamera juga, sih. Ya masih level entry gitu dan belum banyak dieksplor. Kalau mau bandingin hasil, masih kalah jauh lah sama jepretannya Agustinus ini, terutama cerita dibalik foto-fotonya.  

Jadi bener ya ungkapan yang bilang gini" A picture can speak a thousand words."

By the way, aku sudah pernah baca A Thousands Splendid Suns yang ditulis Khaleed Hassan Hosseini dan sukses dibuat mewek. Segitu perih dan apesnya nasib Laila, perempuan di Afghanistan sana yang jadi tokoh utama novelnya. Bersyukurlah kita yang tinggal di Indonesia. Yang  bisa eksis dan mengepresikan diri.  Bete dan kesel dengan war-waran di medsos? Ga ada apa-apanya dengan 'kesialan' berubi-tubi yang dialami Laila. Lari dari mulut macan, masuk mulut buaya. Gitu terus dari kecil sampai tua. Gambaran hidupnya Laila yang pernah aku baca seperti putaran slide yang muncul lagi waktu baca perjalanan Agustinus yang udah sampai di Afghanistan sini.

Foto-fotonya yang ada di Titik Nol ini emang ga sebanyak lembaran narasi perjalanan yang sarat dengan renungan-renungan, tapi bisa merangkum rangkaian kata-kata yang sudah dituliskannya di setebal 552 halaman itu.


"Perjalanan itu bukan untuk bicara benar dan salah, bukan untuk mengubah dunia. Perjalanan adalah belajar untuk melihat berbagai sudut pandang, memahami sudut pandang dengan menjadikan mereka - orang-orang biasa dalam kehidupan biasa - sebagai tokoh utama kisah" - Halaman 439 

Kalau mau tau kenapa bukunya dikasih judul Titik Nol, Guys, kalian harus baca sampai tamat dan hanyut dalam setiap lembarannya.  Buku ini bukan cuma tentang serunya berkeliling dunia menemukan keunikan yang tidak kita temukan di sini. Ada vitamin hati yang membuat kita mikir buat apa menyimpan sifat takabur atau jumawa? Jadi bener juga ungkapan yang bilang, Semakin jauh seseorang berjalan akan membuatnya semakin rendah hati. 

Jadi, ngeri ga, buat lanjut baca Selimut Debu atau Garis Batas, dua buku lainnya dari Agustinus? Hmmm, ngeri-ngeri sedap dengan ketebalannya, tapi kalau sudah tau ending yang didapat kayak gini kenapa enggak? 

Aku udah khatam. Kalian yang masih tertunda ayo beresin. Belum baca? Ayo cari bukunya!

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

39 comments:

  1. Aku baru baca dua buku tahun ini. Next Titik Nol ini masuk dalem list ah. Terima kasih reviewnya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Recomended banget, Mak. Ga akan rugi mengadopsinya :)

      Delete
  2. Aku belum punya bukunya tapi jadi penasaran. Menurutku orang2 yang berani ke luar negeri dalam tempo lama bukan hanya sekedar traveling itu beneran orang2 yang berani ya. Beda bahasa, beda budaya, tapi mampu bertahan. Keren banget. India ini emang gape kayaknya bikin pelem ya. Sutradara pelem di Indonesia juga kan banyak orang India. Meski banyak yg oelemnya agak nganu menurutku tapi ya tetep laris hahaaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mak. Setauku dia tuh keliling Cina, India Pakistan, Afghanistan dan sekitarnya sampai 5 taun. Selama itu aku bakal bawa seisi rumah kali ya hahaha. Duh seminggu aja aku udah homesick. Film Indonesia yang produsernya orang India emang gitu, Mak, kebanyakan tipikalnya gitu huehehe

      Delete
  3. Saya belu pernah baca bukunya. Tetapi, pernah lihat dia jadi narsum di salah satu acara. Foto-fotonya memang keren. Perjalanannya luar biasa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aku juga liat di youtubenya. Pas liat dia ngobrol sama presenternya, kesannya dia itu humble banget ya

      Delete
  4. Agustinus memang luar biasa! Dia piawai banget meng-capture foto dgn human interest yg bikin kita terpukau dan melongo, Waww!
    Btw, doi dulu sempat sekampus ama aku di ITS, mak. Takjub bgt dgn pencapaian doi
    --kindly visit my blog bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah temen sekampus, ya? kalau dia temen sekampusku juga aku pun bakal bangga punya temen keren gitu. Jadi pengen belajar moto yang punya feel keren kayak dia gitu hehe

      Delete
  5. Dulu aku tuh suka banget film India, tapi sekrang udah enggak lagi. Ceritanya film India emang selalu polisinya datagn telat dan joget joget yaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tapi yang aku perhatiin sekarang Inspektur Vijaynya udah pensiun, lelah kayaknya dia hahaha. Jadinya lebih seru plot filmnya. Tapi kalau film India ga ada jogednya kayak ambulan ga pake sirinenya hahaha

      Delete
  6. Agustinus dulu teman kuliahku bareng Nurul Rahma. Sering berbagi impiannya untuk berkeliling dunia waktu itu. Tujuan pertamanya adalah Cina. Untuk apa? Belajar Sastra Indonesia! Gedubrak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hua, seriusan dia bilang gitu? Apa becanda, ya? Duh keren banget ya cita-citanya kesampaian dan jadi inspirasi banyak orang

      Delete
  7. Iya ya dipikir-pikkir dulu film indis, inspekturnya pasti telat datang. Terus tarian dan sedih di bawah rintik hujan. Tapi aku malah suka hehehe.
    Buku ini belum aku baca, pasti menarik ya teh. Cari ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagikan seblak ga pedes juga, Lis hehehe. Coba nonton lagi film India. Sekarang lebih asik

      Delete
  8. Toast teh akupun dah selesai bacanya kagum sama narasi ceritanya bnyak bnget bljar soal masalah kehidupn dn hrs bersyukur bngt,,, gambar2 yg ditampilin genius anglenya ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tuh kan, bener. Fotonya dia bercerita banget. Sesi tulisan kontemplasinya juga keren, ya. Bisa panjang gitu berceritanya

      Delete
  9. Belum baca buku ini ih, penasaran ingin baca juga deh jadinya. Suka sama quote ini nih :
    "Perjalanan itu bukan untuk bicara benar dan salah, bukan untuk mengubah dunia. Perjalanan adalah belajar untuk melihat berbagai sudut pandang, memahami sudut pandang dengan menjadikan mereka - orang-orang biasa dalam kehidupan biasa - sebagai tokoh utama kisah" - Halaman 439

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo pecahin rekor, bisa tamatin buku ini, Tian. Jangan kelamaan kayak aku hehe

      Delete
  10. Aku belum baca,malahan belum punya bukunya,hahahaha. Ketinggalan banget ya.Padahal aku sering baca-baca profile-nya Agustinus Wibowo. Sangat inspiratif, bahkan materi kepenulisan di kelasnya dia tuh berdaging banget. Teknik travel writing-nya juga cakep. Jadi nggak heran kalau buku ini bakalan mengaduk-aduk perasaan. Kayaknya perlu dibujetin nih. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ada kelas penulisannya dia, ya? pengen ikut niiih tapi takut ga bisa bagi waktu huhuhu. Asik ya teknik penulisannya dia. Keren

      Delete
  11. Mbak efiii, itu serius tamat baca dalam 3 tahun? Beneran apa becanda? Hihihi aku buku novel yg tipis aja baru selesai berbulan2. Gimana novel yang bosa jadi bantal?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya serius 3 tahunan. Hay tamatin tuh novel terakhir yang belum selesai. Ada sensasi tersendiri kalau udah bisa menyelesaikannya. Seriusan

      Delete
  12. Fiiii, justru aku suka nonton film India buat mantengin joget dan goyangannya nih hahahaha.

    Ada masa2 sebelum kecanduan kdrama aku suka ngikutin film India juga.

    Wah, kayaknya kalo traveling ke India mending rame2 atau minimal bareng suami sih aku mah, soalnya aku anaknya cemen-an hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, jangan sendirian kalau cemenan mah hahaha. Apa mau kita bareng gitu? Eh tapi sejujurnya aku masih ragu kecuali cuitnya banyak haha

      Delete
  13. India dalam bayanganku kok ngeri ya mb...banyak kejahatan dan serem...tapi sepertinya banyak tempat yang bagus juga. Cuma kok sepertinya kurang ramah perempuan..
    Btw dari reviewnya buku titik nol sepertinya bagus ya, nambah wawasan ..tfs mb...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sampai buku ini tamat kubaca pun aku tetep ga mau jalan sendirian ke sana. Harus serombongan bus baru berani. Ah betapa cemennya aku, ya :D

      Delete
  14. Wah bukunya mas Agustinus, eh selain bukunya yg padat berisi orangnya baik banget lhoooo... Dulu pernah ikutan event Asean blogger solo dan sempet ngobrol dan foto bareng juga, eciyeh ahahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ih aku envy sama dirimu, Mak. Ku pengen ketemu dia juga

      Delete
  15. Tulisannya bergizi banget ya Agustinus, jadi berasa sedang mengalami yang ia ceritakan dan sukses bikin aku parno dengan India hahaha..

    ReplyDelete
  16. Mbaaa, aku belum khatam baca buku ini. DUh padahal udah di halaman tenagh-tengah. Kayaknya aku mau tuntaskan ah. Pengalaman yang oke di buku ini :)

    ReplyDelete
  17. Tiap ke gramed liat buku ini dipegang dibolak balik pengen beli (krn katanya bagus) tp ragu n ngalah (budget) buat buku anak hahaha. Ehm jd isinya tentang perjalanan ya sy kira perjalanan yg dibikin novel . Nuhun teh efi reviewny

    ReplyDelete
  18. Aduh duh... kayaknya bakalan bikin terenyuh nih dan punya paradigma lain yang bisa menambah wawasan.

    ReplyDelete
  19. Padahal aku tuh pengen banget ke India buat City Scape. Tapi beberapa teman balik darisana cerita soal betapa sanitasinya suka bikin ilfil. Tapi kalau traveling ala Raisha dan Hamish gak bakal nemu yang jorok-jorok sih.

    ReplyDelete
  20. Udah pernah baca buku ini. Bagus banget emang. Paling menyentuh pas cerita di Afganistan. Pas beliau dirampok tuh jadi ikutan nangis. Kebayang kan jauh dari rumah tanpa sanak saudara. Duit yang cuma segitu-gitunya eh malah diambil orang.

    ReplyDelete
  21. Aku suka film bollywood. Artisnya manis-manis ya
    Tapi pas dateng sendiri ke negara tetangganya (Sri Lanka) aku jadi sedikit tau kalau artis2 India itu kebanyakan India keturunan, orang aslinya mah ga secakep itu hehehe. Makasih resensinya ya. Meaningful

    ReplyDelete
  22. Mau banget baca teh, ku penasaran pengen tau India kayak apa sih sebenernya, soalnya skrg booming banget kan orang liburan ke sana. Dan aku jadi sadar.. Apalah aku yang masih traveling ecek-ecek dibanding beliau ��

    ReplyDelete
  23. Aku belum baca bukunya mak, kyknya memang menarik baca review ini tapi aku takut kalau baca separuh2 trus gak khatam kepikiran terus hhehe. Tapi makasih ya buat info bukunya, kyknya ada koleksi suamiku buku si Agustinus ini, eh bentar kucek hehe

    ReplyDelete
  24. Ini buku udah terbit agak lama kan ya mba beberapa tahun lalu, aku pernah baca secuil di gramed waktu itu, ini mirip2 dengan eat pray love cuma ini lebih humanis kalo menurutku sih ya... aku jadi inget2 lagi dulu pernah baca ini.. dan dari review ini aku jadi kepengen baca lagi... kayaknya bagus buat self development ya

    ReplyDelete
  25. Meski belum baca buku Agustinus secara penuh tetapi saya sudah suka dari makna didalamnya..

    Dan bicara soal orang India yang katanya Jorok and jijay bangse..😂😂

    Kalau saya pikir tak jauh beda sama orang Indonesia, Sama joroknya..Kenapa Lhaa sama2 dari Asia..

    Sebagai contoh sungai dan laut di india terkontaminasi dengan sampah2 busuk...Negri kita seperti itu juga.😄😄

    Mungkin itu sisi negatif orang india dan juga Indonesia..

    Sisi positifnya mungkin juga banyak...Contoh orang indonesia selalu berpakaian tertutup alias sopan dan bisa mendunia..begitu pun India ..😄😄😄

    ReplyDelete