Si Manis Jembatan Ancol (2019): Emansipasi Wanita dari Perspektif Hantu

"Hey ladies jangan mau di bilang lemah
Kita juga bisa menipu dan menduakan
Bila wanita sudah beraksi dunia hancur"
Tiba-tiba saja lirik lagu Rossa terngiang-ngiang setelah nonton Film Si Manis Jembatan Ancol kemarin. Dalam salah satu scene, obrolan  Maryam (Indah Permatasari) alias Si Manis dengan  Yudha (Randy Pangalila), menyampaikan kekesalannya kenapa perempuan harus jadi hantu dulu biar ditakuti?

Kalau dingat-inget kebanyakan film bergenre horor memang selalu menghadirkan tokoh perempuan sebagai hantu yang jahat. Ga cuma lokal tapi juga luar negeri. Misalnya dari produksi Holywood kita mengenal The Nun dan Anabel. Di sini? Bejibun.  Ada Ibu Pengabdi Setan, Suzzanna yang kehororannya udah melegenda atau hantu Mbak Asih yang sukses diperankan oleh Daanish Shareefa. Belum lagi film-film horor lainnya seperti Kuntilanak, Suster Ngesot, Sundel Bolong dan ini yang mau aku bahas, Si Manis Jembatan Ancol.

Duet Umbara brothers (Anggy Umbara dan Bounty Umbara)  kali ini me-remake urban legend  yang dulu pernah sukses sebagai serial tv di tahun 90an.  Minim jump scare, film yang naskah ceritanya ditulis oleh  Isman HS, Anggy Umbara dan Fajar Umbara menyuguhkan konsep cerita yang menarik.

Tone vintage sebagai representasi latar cerita tahun 1973 tidak membuat filmnya kehilangan suguhan warna yang enak ditonton. Berbeda dengan pakem film horor lainnya, Si Manis Jembatan Ancol dikemas dengan warna yang  jauh dari kesan suram. Padahal kisah Maryam si tokoh hantu ini sudah lebih cukup dari suram untuk diceritakan.

Punya suami Roy (Arifin Putra) yang terobsesi dengan bisnisnya, membuat hidup Maryam terasa bosan dan  harus membuatnya pura-pura bahagia. Maryam hanya punya Cleo, kucing kampung berbulu hitam yang jadi sahabatnya. Sementara si Bibi (Yuyun Sukawati) tidak bisa diandalkan, setidaknya  untuk pintar memilih kata setiap menghadap Roy yang mudah meledak seperti petasan.

Hidup Maryam sedikitnya terasa berubah ketika bertemu Yudha, pelukis yang baru datang sebagai tetangganya.  Lewat kesepakatan 'tukar  jasa lukis' keakraban keduanya semakin lekat dan sukses menyulut kemarahan suaminya.  Roy gelap mata dan  lupa kalau Maryam adalah wanita yang paling dicintai. Ditambah lagi situasi Roy yang terjepit hutang, membuatnya tega menumbalkan istrinya itu pada Bang Ozi (Ozy Syahputra). 

Kalau dulu kalian pernah ngikutin serial sinetronnya, pasti ingat juga dengan sosok hantu botak yang ngondek. Berperan sebagai villains,  Ozy di film ini juga digambarkan sebagai karakter dengan orientasi seksual yang tidak sesuai fitrahnya sebagai laki-laki. Usianya yang udah senior membuat penampilannya pangling. Menggendut, kekar dengan bekas luka parut melintang di wajahnya.  Tapi siapa nyana  galak-galak gitu doyan laki-laki? Hayo lho, jangan terkecoh penampilan.

Balik lagi dengan cerita bisnis Roy,  Mariyam akhirnya jadi korban keberingasan anak buah Bang Ozi. Setelah diperkosa beramai-ramai, tubuhnya dibuang ke kali yang letaknya di bawah Jembatan Ancol.  Yudha si pelukis yang jadi sahabatnya itu tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menyaksikan jejak-jejak balas dendam Maryam  yang berubah jadi hantu, mengincar anak-anak buah Bang Ozi satu persatu dan memamerkannya sebagai cara mengintimadasi korban selanjutnya.

Beberapa kali tokoh-tokoh yang berdosa pada Maryam mengalami mimpi buruk, tidak terkecuali dengan Yudha  yang merasa gagal menyelamatkan Maryam tempo hari.

Kalau film-film horor lainnya menceritakan sosok hantu perempuan yang bengis dan meneror korbannya dengan eksekusi yang kejam, Maryam punya treatment yang berbeda. Bukan sosok hantu yang melayang-layang dan tiba-tiba muncul sebelum mencabut nyawa. Maryam adalah hantu yang pandai berduel, punya senjata yang terencana dan terukur, Jauh dari kesan hantu yang harusnya mudah saja sekali cekik, gigit  atau cara lain yang ga ribet untuk menghabisi korbannya.


Maryam juga usil dan senang menganggu warga yang 'tidak bersalah'. Maryam mengganggu sekadar menegaskan ia ada untuk ditakuti. Sebagian penonton yang kebanyakan waktu  aku nonton adalah rombongan anak-anak SD dan SMP secara mengagumkan tidak terkesan takut. Tidak terdengar pekik atau jerit ketakutan setiap Maryam beraksi. Mereka malah berseru girang ketika satu persatu anak buah Ozi tewas dihabisi dengan cara mengerikan.  


Baca juga Wedding Agreement: Film Drama Romantis

Di satu sisi, film ini memang bukan yang layak konsumsi (dilabeli 17+). Tapi di sisi lain, Si Manis Jembatan Ancol yang durasinya 116 menit ini berhasil mencuri simpati penonton yang sebagian besar anak-anak abg. Maryam jadi sosok hantu wanita yang mendapat applause dengan terornya itu, selayaknya seorang warrior princess. Maryam emang layak dan harus begitu membalas musuh-musuhnya.

Aku acungkan jempol untuk treatment Umbara Brothers dengan penulis naskah lainnya Isman HS  yang membuat twist film ini di luar dugaan dan mengambalikan posisi Maryam pada cerita seharusnya. Namun di beberapa adegan, twistnya jadi terasa kurang in line, meski penulusuran Yudha jadi salah satu cara untuk menyelesaikannya. Apalagi Maryam kurang niat sebagai hantunya. Semisal ketika mengganggu  Bang Kotan (Arief Didu), Maryam lupa menjadi hantu. Ia masih terlihat manis layaknya manusia biasa dengan gigi geliginya, walau ngikik hantunya itu membuat Bang Kotan ketakutan setengah mati.

Balik lagi dengan labeling sosok hantu yang kebanyakan perempuan, Maryam ini bukan saja mengapreasi  emansipasi hantu wanita,  tapi juga psy war:
 "Jangan macam-macam sama perempuan". 

Kalau udah ngamuk,  mereka adalah sosok 'monster mengerikan' mengamuk tanpa ampun. Hanya satu saja yang bisa mengalahkannya, ketulusan hati.  Pesan terbaik dari film ini yang aku suka adalah "Kenapa perempuan harus jadi hantu dulu agar ditakuti?" 

Si Manis jembatan Ancol  menutup kekurangan di beberapa bagian film dengan penutup sebelum end credit, adegan tukang becak yang bikin kesal sekaligus meledakkan tawa.  Sepertinya tidak banyak penonton yang akan mengira dengan situasi yang diceritakan di sini. Lagi-lagi aku merasa ada pesan soal stigma perempuan yang galak sebagai caranya melindungi diri. Si Manis Jembatan Ancol cukup menghiburkan dan mengembalikan posisi dan situasi Urban Legend ini seperti seharusnya, sesuai dengan cerita yang sudah kita kenal.  





Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

5 comments:

  1. Kepengen nonton film ini, tapi belom sempeeeet. Harus nontonnnnnn pokonya..

    ReplyDelete
  2. Baca tulisan teh Efi serasa teh Efi di depan saya sedang bercerita.
    Asyik pisan.
    Jadi pingin nonton hantu yang manis ini.
    Kalo udah lama gini, cari dimana ya teh?

    ReplyDelete
  3. Asik banget ini reviewnya jadi penasaran pengen nonton, si jembatan manis ini yang kuingat adalah Diah Permatasari dan Ozy hahaha...

    ReplyDelete
  4. Ini tontonan zaman tk apa sd ya hihi seru aja gitu ternyata difilm kan, sayang ga sempet nonton. Semoga Bioskop di Cimohay cepet jadi deh ga sabar buat movie marathon hahhaha tfs Teh Efii

    ReplyDelete
  5. Arifin Putra itu yang bekumis, teh Efi?
    Kok aku KZL kalau doi ganteng-ganteng jadi keliatan lucu, hiiks~
    **fans Arifin Putra zaman masih main sinetron di RCTI duluu..

    ReplyDelete