Teman Tapi Menikah: Lucu Lebay Manten Muda

"Semoga lekas isi, ya"

"Jangan ditunda-tunda hamilnya"

Doa-doa semacam ini udah biasa disampaikan sama pengantin.  Sepertinya saya juga pernah deh ngomong gini tanpa meraba dulu perasaan dan apa resolusi yang sudah disiapkan oleh mempelai. Bagi sebagian pengantin mungkin merasa gundah kalau udah sekian minggu atau bulan ternyata test pack masih belum memamerkan dua garis birunya. 

Tapi kepikiran ga sih kalau ternyata masih ada pasangan pengantin yang belum mau punya anak dulu? Maunya menikmati dulu masa pacaran halalnya sampai hadir orang ketiga dalam rumah tangganya, alias si bayi siapapun dia, laki-laki atau perempuan.

Ide seperti itu jadi gagasan utama lenjutan Film Teman Tapi Menikah 2 (TTM 2).  Melanjutkan film sebelumnya, kali ini Rako Prijanto memboyong Mawar Eva De Jongh memerankan tokoh Ayu, menggantikan Vanesha Prescilla menemani Adipati Dolken yang jadi Ditto.

Melanjutkan kisah sebelumnya,  TTM 2 menceritakan kehidupan sesudah menikah yang dialami oleh Ayu dan Ditto.

Di antara masa-masa romantis yang katanya pacaran abis nikah itu lebih seru dan menyenangkan, keduanya dihadapkan pada kenyataan kalau Ayu Hamil.  Senang? Ntar dulu. Kan seperti dibilang sebelumnya kalau keduanya ini belum siap. 

Dengan polosnya, Ditto malah bingung pas tau Ayu hamil dan lempeng nanya masa dia ngehamilin temannya sendiri? Padahal pas awal-awal setelah menikah Ditto ini yang paling semangat mepetin Ayu ngajakin making love. Geli sih sebenernya saya nulis ini. Segeli saya melihat kelakuan Ditto yang gombal dan rada pecicilan kalau lagi jalan bareng Ayu.  

Kenorakan mereka menciptakan ke-cringe-an seperti adegan di resto  saat keduanya berlebihan mengekspresikan sayangnya.  Walau ada orang lain kayak Ditto yang teriak-teriak mengumumkan itu adalah istri sahnya, ya tetep aja awkward"Iya tau, situ suami ama bini tapi yang malu itu kami yang liat, tau!  Bukan sirik. Risih. Please deh".  Adegan ini cukup mewakili apa yang saya alami kalau melihat pemandangan serupa.

Di sisi lain, mungkin saya bakal lebih cuek dan maklum seperti halnya teman-teman ngeband Ditto melihat kelebayan mereka berdua.  Yang namanya persepsi  mungkin terpengaruh juga dengan kedekatan kita sama pelaku (((pelaku))). Walaupun tetap rasanya cringe ya setidaknya bisa lebih santai. Paling ketawa jijay dan pura-pura ga kenal.

Dulu aja pas temen rasa pacar keduanya maen kode-kodean  bisa makan waktu 13 tahun, begitu udah temen rasa  halal Ditto juga mengalami perubahaan mood. Seiring dengan mood swing yang dialami Ayu, Ditto juga jadi gundah gulana merana alias gegana. Selalu kalah menghadapi Ayu.  Sudut pandang film yang berubah jadi orang ketiga tanpa adanya narasi dari Ditto seperti di film Teman Tapi Menikah 1 ini cukup mewakili.  Cukup orang lain saja yang bercerita, ga usah dia.

Akting Mawar Eva sebagai Ayu sukses menepis keraguan kalau pemain pengganti bisa mengubah chemistry. Rasa itu memang berubah, tapi Mawar membayarnya dengan aktingnya yang menawan.  Ayu jadi terlihat lebih dewasa meski saat mood swing di minggu-minggu pertama kehamilannya terasa menyebalkan. Justru emang di sini daya tariknya. Ayu cuek aja meumpahkan kesalahan pada faktor hormon saat dia tiba-tiba meledak nyemprot Ditto.

TTM 2 tampaknya lebih menyorot Ayu sebagai fokus utama cerita.Ditto dan teman-temannya sebagai circle terdekat setelah keluarganya  tidak mendapat banyak kesempatan untuk membela diri, dan hanya digambarkan untuk menghibur Ditto dan woles aja dengan kelakuan Ayu.  

Dominasi Ayu dan kelebayan tingkah Ditto ini sempat membuat saya mengantuk di pertengahan film sampai kemudian seger lagi saat Ayu dan Ditto terlibat perang bantal. Dasar Dittonya yang pecicilan dan cemen, dia cari aman dari konfliknya dengan Ayu. Ia juga nurut aja ketika Ayu memaksa ikut ke Bali untuk show dengan menjadwal ulang keberangkatan pesawat dengan konsekuensi  biayanya naik 8 kali lipat. Bikin saya nelan ludah, karena kalau diitung lumayan banget. Orang kaya mah bebas, ya.

Dominasi perempuan ga pernah salah juga muncul seperti di adegan bangun pagi dan handuk.  Akan ada kebiasaan pasangan yang sebelumnya ga ketahuan tiba-tiba terpampang nyata seperti halnya kebiasaan jeleknya Ditto.  Sebenarnya kebiasaan jelek Ayu juga muncul di sini lewat visualisasi ngomel-ngomelnya itu. Hanya saja di sini dibalut dengan pembelaan Ayu  kalau itu adalah faktor hormon. Bukan dia.


Ngomong-ngomong soal perempuan dan hormonnya, hamil ga hamil udahlah jangan dilawan. Camkan aturan relationship yang ini. 

1. Perempuan ga pernah salah 
2. Kalau perempuan salah lihat lagi rules nomer satu. 

Makanya teman-teman Ditto malah bilangin Ditto buat chill out,  karena mereka pernah ada di posisi yang sama. Begitulah risikonya nikah dengan srigala. #Eh

Terlepas dari rasa ngantuk yang sempat datang,  saya paling senang dengan adegan proses lahiran yang dijalani oleh Ayu. Umpatan dan sumpah serapah pasien sebelah,  atau drama-drama bukaan saat lahiran dan Ditto memeluk Ayu dari belakang jadi momen yang manis dan mengharukan.  


Kalau mau lebih tau detil ceritanya TTM 2 ini bisa baca versi novelnya. Kenapa mereka milih Bali sebagai tempat melahirkan anak pertama, dan gesekan Ayu lainnya dengan teman-teman Ditto bisa baca di sana.

Meski terasa agak lama, Teman Tapi Menikah 2 menyuguhkan cerita dengan sudut pandang yang baru dari perjalanan pasangan muda yang gombal - manis itu.

6,5 dari 10 bintang saya sematkan buat film ini.





Post a comment

0 Comments